Islamic Widget

Selasa, 04 Januari 2011

Gaji Wartawan Sedikit

Begitulah persepsi masyarakat banyak tentang profesi wartawan. Selain beresiko saat bertugas di lapangan, profesi ini memang perlu keteguhan tingkat tinggi untuk menepis persepsi tersebut.

Sebenarnya ukuran besaran gaji wartawan itu relatif tergantung media yang menaunginya. Tapi dari laporan banyak wartawan, gaji mereka memang tidak memenuhi standar.

Oleh karena itu, untuk menutup ketidakcukupan biaya hidup tersebut, wartawan banyak menyambung hidup dengan menjadi media relations hingga bermain produk investasi terutama di pasar modal. Hal itulah yang menyebabkan kisruh pembelian saham PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) yang diwarnai dengan isu wartawan yang meminta jatah saham.

Lepas dari kisruh tersebut, wartawan senior Rosihan Anwar memberikan wejangannya terkait profesi yang sudah ditekuninya bertahun-tahun tersebut. Baginya, profesi tersebut bersifat mulia.

"Meski gaji sedikit, jangan lupakan idealisme, perhatikan nasib orang miskin, rakyat juga belum cerdas. Wartawan jangan kehilangan idealismenya."

Itulah pesannya kepada wartawan yang saat ini gundah gulana terhadap profesinya tersebut. Dia tidak henti-hentinya menekankan idealisme di tengah sifat arogan dari pemilik media. Memang, si pemilik media akan menekan anak buahnya demi keuntungan yang akan diraupnya. Tapi, mengacu ke Kode Etik Jurnalistik, profesi ini memang idealnya harus mempertahankan idealismenya tersebut,walaupun tidak semua wartawan bisa menjalankan dengan sepenuh hati.

Rosihan pun mengutip pernyataan Bung Karno, ”For a fighting journalist, there’s no journey end”. Iya, perjuangan memang belum berakhir, Pak Rosihan.

Tapi, saya juga memplesetkan apa yang pernah dikatakan oleh Shakira bahwa "Aku menggunakan suaraku untuk menyuarakan suara mereka yang tidak didengar. "

Jika diubah sesuai profesi wartawan," Aku menggunakan tulisanku untuk menyuarakan suara mereka yang tidak didengar."

Akankah itu bisa terlaksana di tengah gaji sedikit dan sifat arogan pemilik media? Kayaknya cuma idealisme masing-masing wartawan yang bisa menjawabnya..

Senin, 03 Januari 2011

Kesan Pertama di KONTAN

Hari ini merupakan hari pertama bekerja di Harian Bisnis dan Investasi KONTAN, dari Kelompok Kompas Gramedia (KKG). Tentu saja banyak pengalaman menyenangkan, meski tidak bisa dilepaskan dari rasa lelah yang ada.

Hari pertama masuk, gw datang telat karena informasi sebelumnya dikatakan harus datang agak siangan. Untungnya, gw juga bangun agak siang plus ada kegiatan rutinitas yang belum selesai dirampungkan minggu kemarin, yaitu mencuci dan setrika. Sambil menunggu setrika, gw nonton berita terutama pembukaan perdagangan di Bursa Efek Indonesia yang langsung dibuka oleh Presiden SBY.

Rutinitasku terhenti saat salah satu HRD KONTAN menelfonku untuk segera datang ke KONTAN. Pasalnya, sudah ada teman yang melakukan penandatanganan kontrak kerja.

Fiuhhh..ternyata perjalanan kerja pertamaku disambut hujan lebat plus angin kencang di sekitar Bundaran Hotel Indonesia. Selepas memakai jas hujan, saya pun melanjutkan perjalanan hingga tiba di KONTAN tepat pukul 11.10 wib.

Di sana, saya langsung tandatangan kontrak kerja dengan kompensasi gaji pokok Rp2,651 juta, uang transport kantor-kos Rp400 ribu, uang transport liputan Rp550 ribu, uang pulsa Rp200 ribu dan uang absen Rp17.500 per hari. Totalnya sekitar Rp4 juta lah,more or less.

Alhamdulillah, di tengah inflasi yang naik hingga 6,96%, ternyata gajiku lumayan naik drastis dari tempat kerja semula. Tapi, gaji tersebut juga sebanding dengan tekanan kerja. Buktinya, hingga tulisan ini dibuat saya harus masih di kantor, menunggu berita selesai, takutnya ada tambahan dari bos.

Masalahnya, narasumber berita terakhir susah untuk dihubungi. Maklum saja, ini emiten besar yang cukup sensitif, namanya juga PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR), induk usaha dari Group Bakrie. Apalagi analis yang disuruh berkomentar juga banyak yang enggan menjawab. Hahaha..takut kena semprot dan gagal dapat proyek dari salah satu orang terkaya kaleee...

Dari pengamatanku kerja di KONTAN, ternyata model kerjanya lebih tertata mulai dari budget berita, rapat redaksi, pengiriman berita hingga kompleksitas memenuhi isi berita. Saya juga sempat riweuh dengan model pengiriman beritanya yang super njelimet.

Untungnya, teman-teman kerja banyak yang sudah kenal dan gampang akrab. Mudah-mudahan kerjasama ini akan gampang terjalin dan makin banyak traktiran di awal pertemuan. Buktinya, gw tadi makan siang dengan gratis walau hanya dengan nasi padang.

Ya..namanya juga mengadu nasib plus di sekitar kantor juga jarang ada warung makan. Mau ga mau, apapun dimakan, asal halal dan mengenyangkan!!

Minggu, 02 Januari 2011

Resolusi Spesifik 2011

Ada yang bilang, kalau kita tidak tahu tujuan kemana kita pergi, maka kita juga tidak akan pergi kemana-mana. Untuk memudahkan resolusi tahun ini agar bisa tercapai,saya membuat resolusi yang lebih spesifik. Namun saya masih belum berani menargetkan kapan masing-masing target tersebut harus diraih. Minimal saya akan introspeksi dan perbaharui sepekan sekali.

Inilah resolusi spesifik saya tahun ini. Cekidot:
1. Ruhani
- Beli Alquran terjemah Syaamil
- Tilawah minimal sekali sehari
- Tadabbur quran minimal seminggu sekali
- Mengikuti kegiatan majelis taklim
- Mulai menghafal kembali Juz Amma
- Perbaiki bacaan, gerakan dan makna sholat sebenarnya

2. Fisik
- Lari pagi minimal sekali seminggu
- Gosok gigi minimal 2 kali sehari
- Sit up dan push up minimal 1 set per hari
- Kurangi minuman manis dan perbanyak air putih
- Beli barbel dan latihan ringan minimal 1 set

3. Kerja
- Pindah kerjaan
- Cari kerjaan freelance untuk tambah pendapatan
- Perbanyak baca buku ekonomi atau wawasan menunjang lainnya
- Masih mempertimbangkan membeli BB
- Adaptasi dengan rekan kerja dan narasumber baru
- Perbaharui daftar kontak narasumber

4. Pendidikan
- Ikut training self improvement / self motivation
- Update lomba/menulis blog di blogspot,kompasiana dan Bukukita
- Perbaharui kosakata bahasa Inggris dan bahasa Jepangnya
- Mulai belajar bahasa Mandarin
- Update buku self improvement / self motivation / marketing

5. Keuangan
- Lunasi hutang
- Perbanyak tabungan, minimal 35% dari penghasilan
- Ikutan reksadana saham dan pendapatan tetap
- Investasi emas
- Perbanyak infaq

6. Free (sesuai kehendak Tuhan)
- Menikah
- Kuliah S2 Psikologi/marketing

Jadi Pengusaha Tak Perlu Kuliah

Saya sedang merenungkan sebuah timeline Twitter dari motivator termuda di Asia Bong Chandra yang ditulisnya kemarin. "Untuk menjadi pengusaha, seseorang tidak perlu kuliah. Tapi untuk menjadi karyawan,kalian perlu kuliah."

Saya sangat tertarik dengan kalimatnya tersebut. Dan Bong Chandra sendiri pun mengakui bahwa dia juga bukan lulusan dari kampus terkemuka,apalagi lulusan dari luar negeri atas karirnya kini. Malahan cowok berusia 23 tahun ini drop out dari jurusan Desain Grafis Universitas Bina Nusantara.

Sebelum sukses seperti sekarang, Bong pun berjibaku dengan menempa diri untuk bekerja keras. Saat itu krisis 1998 yang membuat pabrik kue milik orang tuanya bangkrut. Bahkan rumahnya pun hampir dijual. Lepas dari cerita susahnya tersebut, Bong bertekad untuk bisa membangun kerajaan bisnis yang dibangun bersama istri tercintanya.

Untuk apa kuliah?
Pertanyaan itu lantas menggelayut pikiranku. Hingga usia saya yang kini 27 tahun justru hanya mengandalkan untuk menjadi kuli alias bekerja ke orang lain. Walau bukan lulus dari universitas terkemuka, setidaknya saya juga lulus meski tidak dengan Indeks Prestasi Kumulatif tinggi alias cum laude.

Namun setelah membaca timeline tersebut, saya menjadi iri bahkan bisa dibilang menyesal atas karir saya yang begini-begini saja atau penghasilan saya yang enggan bertambah. Ditambah lagi, timeline tersebut juga dibuktikan dari beberapa orang terkaya di dunia yang sukses tanpa melalui tahap bangku kuliah, bahkan maksimal hanya drop out saat kuliah.

Di antaranya adalah pemilik dan pendiri Microsoft Bill Gates yang keluar dari Harvard University. Atau Li Ka Shing (bisnisman Hongkong yang cabut dari sekolah saat berusia 12 tahun), Sheldon Adelsen (casino owner yang drop out dari City College of New York), Pendiri Oracle Larry Ellison yang juga keluar dari University of Illinois serta pengusaha minyak di Rusia Roman Abramovich.

Memang hingga saat ini belum ada survei khusus yang menyatakan bahwa pendidikan tinggi akan sebanding dengan pekerjaan yang akan diraihnya. Namun mengutip pernyataan Ketua Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni) Sofyan Djalil mengungkapkan bahwa pola pikir para sarjana umumnya berorientasi menjadi pegawai negeri atau karyawan swasta, padahal lapangan kerja baik di swasta dan negeri sangat terbatas dibanding angkatan kerja.

Artinya, pendidikan di Indonesia justru melahirkan para pencari kerja baru, bukan pencipta lapangan kerja.

Mantan Menteri BUMN tersebut juga menjelaskan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang di Indonesia maka keinginan untuk menjadi wirausahawan semakin rendah.Nah? akhirnya mereka yang berpendidikan tinggi ini umumnya tidak mau `kotor-kotor` dan biasanya lebih pilih-pilih pekerjaan. Padahal, kalau mau menjadi wiraswasta, dia harus mau `kotor-kotor` lebih dahulu.

Berusaha Tidak Panik
Saya pikir lagi, sang Pencipta tentu memiliki maksud menciptakan makhluknya untuk melakukan kewajibannya masing-masing. Ada yang memilih untuk bekerja, berwirausaha atau memilih menjadi pengangguran. Loh..pengangguran kok pilihan?

Namanya hidup juga perlu usaha. Jika pasrah terhadap keadaan, maka kita hanya akan menerima apa yang kita kerjakan. Kita malas untuk mencari kerja, maka harus siap jadi pengangguran. Kita malas untuk menjadi pengusaha, juga harus siap disebut pengangguran. Intinya hidup ini adalah pilihan. Namun jangan lupa, Kita adalah PRESIDEN dari Perusahaan Pribadi kita. Jangan pernah berpikir kita bekerja untuk orang lain.

Twitter Membosankan??

Beberapa netizen (masyarakat pengguna internet) mengeluhkan kerumitan penggunaan jejaring sosial tersebut. Itulah sebabnya media yang oleh beberapa kalangan bukan dianggap sebagai situs jejaring sosial itu diprediksi akan mengalami kelambatan bisnisnya di masa mendatang.

Berulang kali teman-teman saya meminta saran bagaimana membuat akun, cara update status, upload foto dan sederet fitur-fitur untuk memuaskan hasrat narsisnya. Celakanya, mereka tidak mendapat kepuasan dari fitur-fiturnya itu.

Prediksi Mashable.com tentang dunia jejaring sosial terutama Twitter di tahun ini justru akan membosankan. Pasalnya, Twitter akan fokus pada platform iklan dan meluncurkan fitur-fitur yang hanya mendukung bisnisnya semata. Hal itulah yang dianggap akan menghambat pertumbuhan bisnisnya.

Kendati akan membosankan, ternyata Indonesia menjadi pasar terbesar pertama Twitter di Asia. Hingga pertengahan Desember 2010, jumlah pengguna Twitter di dunia sudah lebih dari 105 juta orang. Sementara jumlah pengguna Twitter di Indonesia sekitar 8 juta orang.

Indonesia sendiri terbilang negara dengan penetrasi Twitter yang tinggi, mengingat pelanggan internet cuma sekitar 30 juta orang. Angka pengguna Twitter itu kalah telak dengan pengguna Facebook di Indonesia yang mencapai 25 juta orang.

Twitter paling banyak digunakan untuk mengabarkan kehidupan personal atau pun aktivitas penggunanya (72 persen), berkaitan dengan pekerjaan (62 persen), dan mentautkan artikel berita (55 persen).

Kita tunggu kiprah Twitter di masa mendatang!

Sabtu, 01 Januari 2011

Perang Tarif Kartu AS VS XL

Akhir-akhir ini pemirsa tayangan iklan televisi pasti sering melihat aksi yang diperankan oleh Sule versus Baim. Sule yang notabene pemain Opera Van Java ini mewakili brand kartu AS dari Telkomsel, sementara Baim mewakili brand produk seluler dari PT Excelomindo Pratama (XL).

Awalnya, Sule dan Baim main bareng di iklan XL yang menyatakan produk XL merupakan brand dengan tarif termurah dari brand lainnya. Lambat laun, Sule digaet oleh kartu AS (segmen low end dari Telkomsel) untuk melawan produk XL.

"Jangan mau dibohongin ama anak kecil," ujar Sule dalam tayangan iklan kartu AS-nya. Atau versi terbarunya adalah ada anak kecil mirip Baim yang mengakui bahwa tarif kartu AS merupakan tarif termurahnya.

Di sini saya tidak akan membedakan tarif antara dua produk telekomunikasi tersebut. Namun dalam dunia marketing, itu merupakan adu perang tarif yang dijadikan senjata dari masing-masing operator untuk menjatuhkan lawan.

Sebenarnya, metode tersebut sudah dipakai dalam beberapa tahun lalu. Bahkan perang tarifnya tidak hanya dari dua operator.Masing-masing operator justru melakukan strategi menjatuhkan lawan lewat iklannya tersebut.

Dari kacamata CEO Virgin Groups Richard Branson, "berteman dengan salah satu musuh adalah taktik yang bagus untuk bisnis dan hidup.".

Namun cara yang digunakan itu, menurut Branson, merupakan cara yang kampungan. Seharusnya, masing-masing operator telekomunikasi ini menggunakan strategi untuk menjatuhkan lawan dengan cara lebih elegan, bukan dengan cara yang sama, hanya perang tarif semata.

Metode perang strategi ini pernah dilakukan di anak bisnisnya, yaitu ketika Sidney Airport Corporation (yang dimiliki oleh perusahaan paling sukses Macquarie Bank) memutuskan untuk menaikkan tarifnya. Lantas Branson beserta CEO Virgin Blue Brett Godfrey sepakat untuk memasang slogan di badan pesawatnya dan juga membuat sebuah papan iklan besar di tepi jalan menuju bandara,yang bertuliskan "Macquarie Dipenuhi oleh Para Bankir."

Aksi tersebut memiliki pesan yang jelas yaitu para bankir selalu mengejar keuntungan sebesar mungkin dengan biaya yang serendah mungkin. Alhasil, Macquarie setuju untuk mempertimbangkan ulang masalah tarif tersebut.

Dalam pandangan Branson, banyak perusahaan yang menginginkan agar merek dagang mereka mencerminkan gambaran ideal dan sempurnanya. Sebagai hasilnya,merek dagang mereka justru tidak terlihat nyata, tidak memperlihatkan karakter dan tidak dapat memenangkan kepercayaan publik.

Sebuah merek dagang akan menjadi identitas jatidiri kita, sehingga akan lebih baik jika kita terus mempertahankan yang sudah usang. So, kita lihat saja perkembangan iklan selanjutnya dari Sule dan Baim ini..toh, masyarakat juga sudah cerdas dengan adanya iklan-iklan tersebut.

Kenapa Harus Merayakan Tahun Baru?

Tahun baru kali ini saya tidak merayakannya di tempat keramaian seperti yang dilakukan oleh banyak orang. Biasanya pun saya juga tidak merayakannya dengan gegap gempita, kembang api, terompet, cemilan segunung atau bahkan keliling kota hanya dengan sepeda motor butut saya.

Bagiku,tidak ada perayaan khusus di tahun baru karena momen pergantian tahun ini hanyalah sekadar pergantian tahun biasa dan saya sering kali tidak memaknainya lebih lanjut. Hingga 27 tahun saya berada di dunia ini, saya hanya merayakannya dua kali yaitu pada malam pergantian tahun baru 2008 dan 2009.

Perayaan tersebut juga terpaksa karena itu merupakan tuntutan kerjaan yaitu liputan pergantian tahun. Tahun 2008 itu saya merayakannya di sepanjang jalan Legian dan Kuta dengan berjalan kaki, tentunya sambil tanya kanan dan kiri seputar perayaan tahun barunya.

Begitu juga yang terjadi di tahun 2009. Tapi kali ini agak spesial karena saya merayakannya di pusat perbelanjaan terkemuka di kawasan Cilandak. Lagi-lagi ini juga terpaksa karena liputan bersama salah satu operator telekomunikasi tanah air.

Bahkan dini hari tadi, saya juga hanya menyaksikan kemeriahan pergantian tahun baru di ibukota melalui tempat jemuran di lantai dua kosan saya. Ah, semuanya masih sama, hanya meniup terompet dan menyalakan kembang api. Kalaupun ada konvoi, biasanya selalu membuktikan klakson. Itupun sekarang dilarang karena akan mengganggu ketenangan masyarakat sekitarnya.

Hingga saat ini saya belum tahu hal apa yang tepat dilakukan pada pergantian tahun tersebut. Saya pun ogah latah dengan mengikuti perilaku masyarakat sekitar dengan hal yang sama tiap momen tahunan itu.

Tapi yang pasti, dengan barubahnya kalender tersebut berarti jatah umurku kian berkurang. Misalkan saya hanya diberi jatah umur hingga 60 tahun, maka umurku hanya akan tersisa 33 tahun lagi.Masalahnya, dengan umur yang sudah kuhabiskan selama 27 tahun itu apakah sudah memberi manfaat kepada keluarga, teman, rekan seprofesi, rekan kantor hingga masyarakat sekitar. Tidak usah jauh-jauh apa kontribusi kita kepada negara, karena sampai saat ini saya juga belum menghitung kontribusi apa yang telah saya berikan, minimal kepada diri sendiri dan keluarga.

Tak terasa, waktu saya untuk bertemu dengan ajal semakin dekat. Dan tampaknya saya terlena karena saya hanya menghabiskan malam pergantian tahun baru dengan hura-hura, membuat keributan dengan meniup terompet dan menyalakan kembang api. Hahaha...

"Ga usah sewot kali, toh ini juga perayaan setahun sekali.Have fun dikit lah bro," ujar teman saya.

Hmmm..sah-sah saja memaknai momen pergantian tahun sesuai keinginan kita. Namun agar tidak terlewat batas, setidaknya kita bisa menghitung, untuk apa saja usiamu kau habiskan, dikemanakan saja hartamu dibelanjakan dan seberapa banyak ilmu yang kau miliki kau sebarkan.

Fiuhhh..sepertinya saya masih bisa merayakan tahun baru tanpa harus tiup terompet, bakar kembang api, bunyikan klakson hingga arak-arakan keliling kota sampai membuat macet dengan hanya bercengkerama sesama keluarga atau teman di rumah. Toh, intinya tetap sama. Tahun baru hanya ganti tanggal, bulan dan tahunnya saja. Yang penting kan perubahan sikap, tindakan dan pola pikir kita harus selangkah lebih maju dari sebelumnya.Have a nice new year!!