Islamic Widget

Senin, 20 September 2010

Nilai Tukar Rupiah Bisa Tembus Rp8.800

Nilai tukar rupiah diperkirakan akan terus menguat ke level Rp8.800 per dolar AS.Arus dana asing (capital inflow) yang terus masuk ke Indonesia jadi pemicunya.

“Meski sepekan lalu tertekan, rupiah diperkirakan akan tetap menguat hingga akhir tahun,” ungkap ekonom Standard Chartered Bank Eric Sugandhi kepada SINDO di Jakarta, Senin (20/9/2010).

Dia memprediksi, rupiah akan bergerak di level Rp8.800 per dolar AS hingga akhir tahun.
Jika dilihat dari fundamental, rupiah justru lebih bisa menguat di kisaran Rp8.700 - 8.800 per dolar AS hingga akhir tahun.


Selain ditopang oleh capital inflow, lanjut dia, penguatan tersebut juga karena pemulihan ekonomi Indonesia relatif lebih tinggi dibandingkan negara lain sehingga akan menarik investasi asing (foreign direct investment/FDI).Prediksi Indonesia yang akan masuk sebagai Investment Grade juga akan memicu beragam investasi masuk ke Indonesia.

“Termasuk pengelolaan utang Indonesia yang cukup prudent,”tambahnya.

Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia (BI) akhir pekan lalu,rupiah ditutup melemah 5 poin (0,05%) dari Rp8.980 menjadi Rp8.985 per dolar AS. Padahal rupiah sempat berada di posisi terkuatnya di level Rp8.954 per dolar AS pada 14 September 2010.Kondisi tersebut justru lebih baik dibandingkan penutupan pada 8 September lalu di level Rp9.016 per dolar AS.

Secara terpisah,pengamat ekonomi Farial Anwar mengatakan, penguatan rupiah masih akan terjadi terutama akibat inflow yang masih besar.Apalagi bunga di Amerika Serikat sudah kecil sehingga banyak investor yang masuk ke Asia karena imbal hasil (yield) masih tinggi.

“Kondisi pasar sekarang sudah ada aktivitas, tapi belum seramai sebelum libur Lebaran karena masih ada perusahaan yang masih libur. Untungnya masih ada inflow,” katanya.

Kendati demikian, investor saat ini lebih didominasi dan disebabkan oleh spekulan yang bermain di pasar modal.Saat ada sentimen negatif sedikit, pasar akan langsung jatuh. Menurut Farial, kondisi pasar saat ini sudah bubble karena investor senang goreng menggoreng. Hal itu lebih karena yield Indonesia masih lebih menarik dibandingkan pasar regional dan global.

“Bagaimana tidak, yield SBI 6,5% dan SUN 11%, itu lebih menggiurkan bagi ritel. Makanya menyerbu Indonesia dan juga berdampak ke penguatan rupiah,”tambahnya.

Farial mengatakan, rupiah tidak terus-terusan menguat. Prediksinya, rupiah akan bergerak di level Rp8.950-8.970 tahun ini dan hanya akan bergerak di level sekitar itu.

“Rupiah tidak akan turun lagi dari itu. Itu level terkuat karena BI akan melakukan intervensi,” tambahnya.

Tidak ada komentar: