Islamic Widget

Sabtu, 28 Agustus 2010

Fokus Pada Keinginan Nasabah

Banyak bank menawarkan produk kepada nasabah. Namun bank kebanyakan lupa bahwa nasabah juga memiliki keinginan yang harus diwujudkan. Bank Permata sebagai salah satu bank terkemuka di Indonesia mampu memenuhi keinginan nasabah tersebut. Salah satunya adalah mengimplementasikan pendekatan customer-centric.

Berikut petikan wawancara dengan Direktur Utama Bank Permata David Martin Fletcher di kantornya pada 10 Maret 2010 lalu yang bercita-cita menginginkan Bank Permata sebagai bank yang fokus ke segmen consumer dan commercial.

Bagaimana performa bisnis Bank Permata selama 2009 lalu?
Secara umum, performa bisnis Bank Permata secara keseluruhan menunjukkan hasil yang positif. Aset kita mencapai Rp56,2 triliun dan masuk Top 10 bank dari segi aset. Serta menempati posisi 9 dalam pencapaian dana pihak ketiga (DPK) versi Bank Indonesia per Desember 2009.

Begitu juga dengan pencapaian kredit perseroan yang naik 18% dari Rp34,85 triliun di 2008 menjadi Rp41,2 triliun di akhir 2009. Pertumbuhan tersebut sudah melampaui pertumbuhan kredit rata-rata secara industri yang hanya naik 10,61%. Hal itu berarti Bank Permata telah menunjukkan komitmennya sebagai bank yang melakukan fungsi intermediasi secara baik.

Dengan pertumbuhan kredit tersebut, bank hasil merger 5 bank (PT Bank Bali Tbk, PT Bank Universal Tbk, PT Bank Artamedia, PT Bank Patriot dan PT Bank Prima Ekspress pada tahun 2002) ini berhasil membukukan kenaikan pendapatan. Yaitu naik 15% menjadi Rp3,74 triliun. Sementara pendapatan bunga bersih naik 15% menjadi Rp2,96 triliun dan pendapatan operasional juga naik 15% menjadi Rp785 miliar.

Alhasil, laba operasional naik 19% menjadi Rp740 miliar. Sedangkan laba bersih tumbuh 5% dari Rp461 miliar menjadi Rp486 miliar di akhir 2009.

Namun bila dibandingkan dengan bank lainnya, mengapa laba Bank Permata relativf lebih kecil?
Laba hanyalah salah satu indikator kesuksesan, namun bukan indikator mutlak kesuksesan sebuah bank. Masih banyak indikator lainnya yang patut dilihat, di antaranya laba operasional ataupun pendapatan. Namun kami tetap optimis untuk dapat mengejar ketertinggalan di tahun ini dengan menciptakan strategi tertentu.

Bagaimana prospek industri perbankan di 2010 ini dan khususnya ke Bank Permata?
Kami yakin dengan pertumbuhan yang kuat selama 2009, industri perbankan secara umum akan melanjutkan penguatannya. Namun hal itu harus tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian dan harus mendapat dukungan penuh dari pemegang saham. Dalam hal ini kami didukung oleh dua perusahaan papan atas di luar negeri dan di dalam negeri yaitu Standard Chartered Bank dan PT Astra International Tbk.

Salah satu komitmennya di tahun ini adalah kami mendapatkan suntikan untuk memperkuat struktur permodalan (tier II) dari Standard Chartered Bank (salah satu pemegang saham Bank Permata) sebesar Rp700 miliar. Suntikan modal yang telah dilakukan pada 8 Maret 2010 tersebut merupakan penerbitan surat utang jangka menengah subordinasi tanpa jaminan oleh Bank Permata. Surat utang itu bertenor 10 tahun dengan tingkat bunga variabel SBI 3 bulan plus 2,75% per tahun.

Bila emisi ini dilakukan di akhir 2009 saat CAR Permata Bank tercatat sebesar 12,2% (setelah memperhitungkan risiko pasar), emisi ini dapat meningkatkan CAR sebesar 140 bps. Hal ini menjadikan CAR Permata Bank menjadi 13,6%, jauh melampaui ketentuan minimum Bank Indonesia sebesar 8%.

Di tahun ini pula, kami yakin bisnis Bank Permata akan selaras dengan prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Begitu juga dengan ekonomi global yang mulai pulih. Permintaan domestik akan masih menjadi motor penggerak ekonomi Indonesia, sebanding dengan peningkatan ekspor di tahun ini.

Bagaimana strategi Bank Permata untuk menghadapi persaingan terhadap perbankan lainnya? Apakah ada target tertentu?
Kami akan melanjutkan apa yang kami capai di tahun lalu dan akan tetap fokus melayani segmen consumer dan commercial (small medium enterprises/SME dan middle market) di tahun ini. Salah satu caranya adalah melakukan pendekatan kepada nasabah (customer-centric approach).

Dengan metode seperti itu, kami akan mengetahui kebutuhan nasabah yang menjadi fokus Bank Permata. Biasanya melalui inovasi produk ataupun menyediakan pelayanan prima kepada nasabah prioritas. Di sisi lain, kami akan melakukan efisiensi untuk mendapatkan profit yang tinggi.

Dengan dukungan dua pemegang saham utama, kami akan tetap melanjutkan sinergi dengan perusahaan papan atas tersebut. Sekaligus meningkatkan bisnis dengan cara penjualan silang (cross selling) melalui bundling product maupun menawarkan harga persahabatan (relationship pricing).

Dalam hal jaringan, kami akan meningkatkan infrastruktur melalui penataan ulang beberapa kantor cabang untuk meningkatkan pelayanan nasabah. Bahkan kami akan merelokasi maupun menutup beberapa cabang untuk meningkatkan produktivitas. Di sisi lain kami juga akan membuka cabang baru, menambah mesin ATM dan mesin Electronic Data Capture (EDC). Hal itu kami lakukan untuk mendekatkan nasabah yang sudah ada maupun peluang nasabah baru.

Di sisi internal, kami menganggap karyawan adalah salah satu aset perusahaan. Sehingga untuk meningkatkan kemampuannya, kami rutin melakukan pengembangan, pelatihan dan meningkatkan bakat karyawan. Langkah tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus meminimalisasi resiko perusahaan.

Kami juga semakin yakin dengan fokus ke target nasabah, meningkatkan efisiensi dan produktivitas, menguatkan sinergi dengan pemegang saham, mengoptimalkan jaringan, meminimalisasi resiko perusahaan, melakukan penjualan silang serta mengembangkan karyawan sebagai aset perusahaan adalah strategi untuk memenangkan pertarungan di industri perbankan yang kian ketat.

Anda berpengalaman di dunia perbankan selama kurang lebih 24 tahun. Apakah ada strategi tertentu dalam mengelola Bank Permata ini?
Dunia perbankan di seluruh dunia memiliki basis produk yang relatif sama. Perbedaannya hanyalah bagaimana kita bisa melayani nasabah dengan sebaik-baiknya. Selain itu kita juga harus mampu memberikan inovasi produk sehingga nasabah tertarik dengan produk yang kita tawarkan.

Apalagi karakter penduduk Indonesia begitu unik. Dengan jumlah bank sekitar 122 unit, kami dituntut untuk bisa bersaing dengan banyak bank tersebut. Harapannya, bank-bank tersebut bisa melakukan merger atau konsolidasi sehingga akan membuat perbankan menjadi sehat.

Namun Indonesia justru diuntungkan oleh kekuatan ekonomi domestic. Sehingga tidak banyak akan terpengaruh oleh krisis global yang melanda, seperti yang terjadi dua tahun lalu. Buktinya kami tetap mencatatkan pertumbuhan positif meski diterpa krisis.

Produk apa saja yang akan ditawarkan Permata di tahun ini?
Kami masih fokus ke segmen consumer dan commercial. Di antaranya adalah produk kredit pemilikan rumah (KPR), kredit tanpa agunan (KTA), pengelolaan kas perusahaan (cash management), bancassurance, pengelolaan dana mahal hingga produk Priority.

Khusus produk liabilitas, kami memiliki produk Tabungan seperti Tabungan Bebas, Tabungan Optima, Permata Bintang (untuk anak), Tabunga Masa Depan, giro (individu maupun korporasi) dan deposito. Untuk produk retail banking treasury ada valuta asing dan obligasi. Produk investasi berupa reksadana terproteksi, reksadana pendapatan tetap, reksadana saham, reksanada kombinasi, ORI hingga sukuk. Serta ada produk bancassurance seperti unitlink.

Produk tersebut kebanyakan sudah ada di tahun lalu. Sehingga tahun ini kami hanya akan melakukan inovasi untuk menjaga loyalitas nasabah lama dan berharap dapat menjaring nasabah baru. Selama ini produk-produk di atas banyak diminati nasabah kami. Agar lebih optimal, kami akan menyosialisasikannya ke seluruh cabang untuk meningkatkan basis nasabah.

Di akhir 2009, Bank Permata meluncurkan produk Priority Banking. Apakah layanan priority banking masih menarik minat nasabah di tengah bayang-bayang krisis global tahun lalu?
Kami percaya bahwa layanan priority banking masih menjanjikan sebagai layanan potensial di tahun ini. Layanan tersebut merupakan peningkatan layanan yang dimiliki perseroan di tahun sebelumnya yaitu Tabungan Permata Kencana. Karena nama tersebut kurang menjanjikan sebagai layanan Priority, maka kami mengubahnya menjadi Priority Banking.

Keunggulan produk tersebut adalah fasilitasnya dapat dinikmati oleh semua anggota keluarga. Hal itu sejalan dengan visi perseroan yaitu melakukan pendekatan kepada nasabah sesuai kebutuhannya. Layanan tersebut juga akan menjadi kontribusi tertinggi kepada perseroan terutama dalam penghimpunan dana pihak ketiga sekaligus menjadi portofolio investasi. Di sisi lain, layanan ini akan memberikan apresiasi eksklusif bagi nasabah dan anggota keluarganya.

Di Permata Priority, beragam keuntungan yang didapatkan oleh nasabah akan secara langsung dinikmati oleh seluruh keluarganya. Seperti layanan kartu kredit Permata Black yang digabung dengan Mastercard Internasional.

Tapi banyak perbankan lain yang juga menggenjot nasabah Priority. Apa strateginya untuk mendapatkan ceruk sempit tersebut?
Layanan Priority ini fokus ke keluarga karena kami menganggap bahwa keluarga adalah aspek paling penting untuk nasabah kami. Maka kami akan memberikan pelayanan terbaik dalam memenuhi kebutuhan nasabah sekaligus keluarganya.

Saat ini kami menyediakan layanan tersebut melalui 17 Priority Center di tujuh kota utama yaitu Jakarta, Bandung, Bogor, Semarang, Surabaya, Denpasar dan Medan. Di tahun ini, kami menargetkan kepuasan nasabah Priority sekaligus meningkatkan jumlah basis nasabahnya.

Jumlah minimal investasi di layanan tersebut adalah sebesar Rp500 juta. Sayangnya, kami tidak berencana untuk membuka layanan di bawah nilai minimal tersebut.

Berapa potensi dana nasabah kakap tersebut di Indonesia dan berapa target Bank Permata meraih dana potensial tersebut?
Jumlah nasabah Priority terus meningkat setiap tahun yang diikuti oleh pertumbuhan relatif besar di jumlah dana kelolaan. Kami yakin tahun ini akan ada pertumbuhan lebih tinggi lagi, baik jumlah nasabah maupun besaran dananya.

Apakah ada target pertumbuhan dana pihak ketiga dan jumlah pertumbuhan nasabah Bank Permata di tahun ini?
Setiap tahun Bank Permata agresif dalam pertumbuhan bisnis yang direflesikan dari masing-masing target perseroan. Tahun ini, kami juga akan menggenjot dana pihak ketiga terutama dana murah yang banyak ditopang oleh sebagian besar nasabah kami.

Suku bunga acuan BI (BI Rate) akan fluktuasi tahun ini dan imbas krisis global akan masih terjadi. Bagaimana cara Anda untuk meningkatkan loyalitas nasabah?

Dalam melayani produk investasi nasabah, kami harus mengerti profil resiko nasabah, tujuan investasi dan jangka waktu investasinya. Kemudian, kami baru akan menawarkan produk investasi yang sesuai dengan profil dan kebutuhan nasabah.

Selalu Ada peluang Untuk Menang
Apakah ada suka duka dalam dunia bankir?
Justru dunia bankir sangat menyenangkan sehingga saya betah menekuni dunia perbankan selama 25 tahun. Apalagi kami bertugas untuk meningkatkan portofolio investasi nasabah agar menjadi kaya. Itu sangat fantastik. Bahkan saat kami melakukan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) ke pelosok daerah. Hal itu sangat menyenangkan, terutama di China, Hongkong, Singapura bahkan Bangladesh.

Di negara tersebut, saya melihat perbedaan karakteristik nasabah. Tapi pada dasarnya sama, mereka ingin berinvestasi dan sayalah yang bertugas harus membuat mereka bisa kaya dengan produk investasi yang ada di perbankan. Itulah uniknya.

Bagaimana Anda membagi waktu dengan keluarga?

Kebetulan semua keluarga sudah ada di Jakarta dan saya sangat suka dengan Indonesia. Jika ada hari libur ataupun di akhir pekan, kami usahakan selalu ada berkumpul bersama antaranggota keluarga. Di situlah saatnya kami melepas lelah sembari bertukar pikiran berbagi kebahagiaan dan kesedihan yang dialami di dunia kerja. Yang penting adalah mampu membagi waktu antara urusan kerja dan keluarga.

Bagaimana rasanya memimpin perusahaan dengan karakteristik pemegang saham di dua negara?
Ini adalah perusahaan yang besar dengan pemegang saham yang unik, yaitu perpaduan antara perusahaan lokal dan perusahaan asing. Apalagi dua perusahaan tersebut adalah dua perusahaan papan atas di masing-masing negara. Jarang sekali ada perusahaan seperti ini.

Saya yakin selama memimpin perusahaan ini, saya akan menciptakan peluang-peluang baru baik dalam produk maupun penataan kerjasama antar tim. Perusahaan ini akan ditopang oleh sumber daya manusia (SDM) lokal terbaik. Saya yakin dengan aset karyawan yang ada, ditambah peningkatan kualitas SDM, maka kami akan mampu bersaing dengan perbankan yang lebih dahulu ada. Intinya peluang itu masih ada, dan selama peluang itu ada, selalu ada peluang untuk menang.


Biodata:
Nama : David Martin Fletcher
Tempat/Tanggal lahir : London, 18 Januari 1963
Pendidikan : Menerima Upper Second Class Honours Degree untuk Modern History dari Durham University
Karir :
•Nigeria International Bank Laos Nigeria sebagai Vice President and Country Risk Manager and General Manager, Energy Group (1992-1994)
•Standard Chartered Bank (SCB) London sebagai Corporate Banking Director and Head of Energy Group (1995-1996)
•SCB Shanghai China sebagai Senior Credit Officer (1996-1998)
•SCB Hongkong sebagai Head of Trade Risk and International Trade Management Group (1998)
•SCB Singapura sebagai Regional Credit Officer, South East Asia, India and Australia (1998-2000)
•SCB Singapura sebagai Group Head Portofolio Management and Wholesale Bank (2000-2002)
•SCB Bangladesh sebagai Chief Executive Officer (2002-2004)
•SCB Group sebagai Head of Group Internal Audit (2002-2009)
•Bank Permata sebagai Direktur Utama

Siap Menghadang Demam Blackberry

Demam Blackberry ternyata membuat Nokia kian gerah. Diam-diam vendor ponsel dari Finlandia ini menyiapkan segelontor strategi untuk merebut kembali tahta pemegang pangsa pasar terbesar dunia. Saya berhasil melakukan wawancara dengan Chris Carr, Vice President, Sales, Southeast Asia Pasific di Singapura (15/6/2009).

Bagaimana kondisi market Nokia hingga saat ini? Apakah penjualan perangkatnya turun berkat pasar demam Blackberry?
Hingga kuartal I/2009, penjualan Nokia global mengalami penurunan 19,3% dibandingkan periode sebelumnya, dari 115,5 juta unit menjadi 93,2 juta unit. Khusus di pasar Asia Pasifik, Nokia telah mengalami penurunan volume penjualan sekitar 17,3% dari 34,1 juta unit menjadi 28,2 juta unit. Bahkan di pasar Amerika Latin, Nokia jeblok hingga 44,5% dari 11,9 juta unit menjadi 6,6 juta unit. Beruntung di pasar Amerika Utara, Nokia mengalami pertumbuhan 30,8% dari 2,6 juta unit menjadi 3,4 juta unit.

Namun dengan penurunan penjualan tersebut, bukan berarti semata karena penjualan Blackberry yang melesat. Vendor Nokia telah melalui tahap riset untuk mengeluarkan produk sebelum dilempar ke pasar. Perusahaan juga telah menyesuaikan target market yang akan disasarnya. Jadi konsumenlah yang akan menentukan gadget apa yang akan dipilih sesuai kepribadian maupun kebutuhan.

Apakah Nokia takut dengan penjualan Blackberry yang melesat? Apalagi vendor dari China juga jor-joran mengeluarkan produk mirip Nokia namun berbandrol murah?

Sama sekali tidak takut. Malah kita tetap optimis dapat mengejar ketertinggalan itu. Terkait vendor China yang menjiplak produk Nokia, hal tersebut sangat tergantung dengan konsumennya. Calon konsumen pun sudah mulai kritis terhadap gadget yang akan dibeli, baik melalui kualitas produk hingga jaminan garansi. Jika ada masalah, Nokia Care Center siap mengatasi.

Untuk menghadapi tekanan jiplakan vendor dari China, perusahaan juga telah mengeluarkan produk berkategori low-end dengan harga murah dan fitur yang disesuaikan. Jadi, pilihan konsumen terhadap gadget semakin lengkap mulai dari low-end hingga smartphone.

Strategi untuk mengejar ketertinggalan?
Kita sudah menyiapkan perangkat mumpuni yang bisa minimal setara dengan Blackberry keluaran Research in Motion. Namun perangkat tersebut bukan dirilis tahun ini. Kita akan rilis secepatnya termasuk layanan Instant Messaging yang kini mewabah pada layanan Blackberry. Produk dan layanannya seperti apa, tunggu saja tahun depan.

Berarti pasar Nokia siap direbut Blackberry tahun ini?

Bukan seperti itu. Untuk mengembangkan satu produk, kita memerlukan waktu yang lama. Saat ini, ponsel yang dapat menyaingi kepopuleran Blackberry adalah Nokia E-series seperti E63 dan E71 yang saat ini penjualan di Indonesia sedang booming dan harganya justru meroket.

Bahkan pada kuartal III dan IV tahun ini Nokia juga bersiap menelurkan perangkat yang merupakan penyempurna dari E-Series maupun seri Express Music yang selama ini menerima respon sangat positif khususnya di Indonesia. Yaitu ponsel E72 dengan perbaikan kamera 5MP dan tombol optikal navigasi sistem trackball mirip Blackberry. Selain itu, dukungan prosesornya sudah tiga kali lipat dari kecepatan prosesor E71. Itulah yang menyebabkan kecepatan download maupun upload ponsel ini bisa mulus hingga 10,2 mbps.

Ada juga Nokia 5530 Xpress Music (penyempurna dari Nokia 5800 yang lebih ramping dan lebih responsive dari segi layar sentuhnya) maupun seri 3710 Fold yang ditujukan untuk segmen menengah ke bawah dan dilengkapi dengan OviMail (layanan push dan pull email mirip Blackberry) dan kamera 3,2MP.

Layanan Ovi itu seperti apa?

Aplikasi tersebut merupakan portal yang mampu memadukan layanan peta, musik, surat (mail), game maupun foto dalam sebuah perangkat. Saat ini aplikasi tersebut bisa dicicipi melalui portal www.ovi.com. Khusus untuk layanan OviMail, sementara Nokia hanya membenamkannya pada perangkat yang memakai platform Symbian 40. Targetnya ponsel dengan sistem operasi tersebut bagi pasar emerging market atau pasar pemula yang belum memiliki akun "email" (surat elektronik) untuk mengatur dan memulai menggunakan akun "email" pribadi.

Dibandingkan Blackberry, layanan OviMail sendiri cukup dengan 3 langkah mudah untuk setting email di ponsel. Sementara Blackberry harus melewati 10 langkah. Ke depan Nokia membidik masyarakat pedesaan yang belum terlayani oleh layanan internet kabel dan akan memberi penawaran lebih untuk menggunakan pesan email daripada sekadar pesan pendek (sms).

Pengguna pun bisa berkirim pesan melalui internet tidak perlu menggunakan perangkat komputer yang berharga mahal, tetapi cukup dari ponsel.

Berapa pasar Ovi saat ini?
Saat ini layanan yang memberikan nama email lebih personal ini sudah digunakan oleh lebih dari 350.000 pengguna di seluruh dunia dan Indonesia merupakan negara pengguna OviMail terbesar saat ini yaitu 250.000 pengguna.

Layanan OviMail untuk sementara hanya dijejalkan pada ponsel dengan operasi sistem Symbian 40 dan sudah memakai 14 bahasa lokal di 171 negara. Nantinya akan terus berlanjut.

Apa yang dibidik oleh Nokia ke depan?

Kebutuhan konsumen terhadap perangkat mobile selama ini terus berubah. Pengguna makin menginginkan orang lain terutama keluarga dan teman makin dekat dengan dirinya. Oleh karena itulah, Nokia menjembatani itu semua dengan mengeluarkan perangkat-perangkat dan layanan yang mumpuni dalam mendukung era internet mobile.

Sesuai dengan mottonya,”Connecting People”, Nokia ingin menjembatani antara dunia fisik dan dunia digital sehingga interaksi dengan orang lain meski dengan jarak yang jauh menjadi terasa dekat.

Nantinya semua ponsel Nokia akan terhubung dengan perangkat email. Dengan tiga seri yang akan dilempar ke pasar di kuartal III dan IV tahun ini, sebenarnya Nokia tidak ingin menyaingi iPhone, iPod, Palm Pre atau bahkan Blackberry yang fenomenal. Tapi Nokia akan lebih mengedepankan fitur-fitur sesuai keinginan pengguna, tentunya dengan harga yang kompetitif dan terjangkau.

Berarti Nokia akan serius menggarap perangkat internet mobile?
Saat ini tren untuk menikmati media sudah berubah. Era konvergensi media menjembatani seseorang untuk menikmati sebuah media melalui piranti digital.

Hingga akhir kuartal I/2009, Nokia telah melakukan penelitian terhadap perubahan kecenderungan seseorang untuk menikmati media. Sebanyak 9,3 juta per hari orang mengakses situs jejaring sosial melalui ponsel, sekitar 8,2 juta orang mendowload peta, sekitar 22,3 juta orang mengakses informasi dan berita selama sebulan dan sekitar 184 juta pengguna telah memulai menggunakan blog. Di sinilah peran Nokia begitu besar menjembatani mereka yang menuntut mobilitas di era konvergensi media.

Contohnya?

Salah satu perangkat yang telah dikeluarkan adalah Nokia N97. Piranti ini merupakan perangkat yang mengombinasikan ponsel, kamera, laptop, console game dan GPS Map dalam sebuah perangkat. Saat ini, Nokia juga tengah mengembangkan beberapa aplikasi dari pihak ketiga yang dapat dijejalkan ke piranti tersebut agar lebih bertenaga. Bisa dianggap, N97 merupakan pesain netbook yang saat ini bak kacang goring di pasaran.

Pihak Nokia juga tengah menjajaki kerjasama baik dengan Apple, RIM, HTC, Windows, Google maupun Qualcomm. Namun isi dari kerjasama tersebut juga belum dibeberkan kepada media.

Ada yang lain?
Nokia secara intensif juga mengambangkan teknologi yang dapat mendukung
aktivitas berinternet secara bergerak. Terlebih layanan Ovi Store yang baru saja
diluncurkan bulan Mei lalu menjadi awal terobosan baru bagi Nokia di bidang
internet mobile.

Layanan yang terintegrasi di www.ovi.com tersebut sudah tersedia di 152 negara yang bekerjasama dengan 70 operator. Melalui konten yang langsung terintegrasi di ponsel tersebut, pengguna bisa langsung mencicipi beragam aplikasi (bisnis, city guide, entertainment, musik, news, foto, jejaring sosial dsb), permainan, personalisasi (ringtone, wallpaper dan theme) serta audio video (podcast, audio, video).

Layanan OviStore sudah dapat dilihat melalui web di PC maupun ponsel dengan koneksi internet. Nantinya konten yang berisi aplikasi tersebut akan dikembangkan sesuai dengan pasar masing-masing negara.

Layanan tersebut juga masih dalam tahap pengembangan. Nantinya layanan ini akan diumpamakan seperti “One Stop Shop” di ponsel. Beberapa aplikasi tersebut bisa diunduh secara gratis hingga berbayar (di luar biaya koneksi internet). Pengguna juga bisa mengunduh aplikasi yang diinginkan secara langsung, melalui rekomendasi dari teman atau dari jumlah pendownload terbanyak.

Rencana akuisisi?
Nokia juga telah mengakuisisi perusahaan penyedia peta GPS Navteq Corp dari Amerika Serikat pada 10 Juli 2008 senilai USD8,1 miliar atau setara dengan USD78 per lembar saham. Upaya itu untuk meningkatkan kemampuan GPS dari ponsel-ponsel Nokia. Akuisisi ini merupakan yang terbesar dalam sejarah Nokia.

Akusisi ini juga ingin menandingi vendor lain yang berlomba membenamkan operasi sistem Windows Mobile dari Microsoft. Sistem operasi tersebut diyakini sudah menawarkan keunggulan berupa integrasi kemampuan produktivitas, akses internet dan hiburan. Namun perpaduan ponsel dengan GPS justru bisa lebih dari itu.

Layanan pencarian lokasi merupakan salah satu strategi untuk menghidupkan layanan internet Nokia. Akuisisi Navteq akan membuat Nokia menjadi pemimpin dalam industri ini karena dengan begini Nokia mampu menghadirkan konteks dan konten dalam informasi geografis kepada pengakses internet.

Perusahaan GPS terbesar di dunia, Garmin juga masih mengandalkan peta dari Navteq. Sehingga fokus Nokia menggaet Navteq untuk menelurkan ponsel navigasi sudah sangat tepat. Tahun depan, pilihan ponsel navigasi juga akan semakin banyak. Paling mutakhir contohnya adalah N95 8GB yang memiliki memori besar dan kamera digital beresolusi 5MP.

Nokia juga masih fokus memakai operasi sistem Symbian karena sistem ini merupakan sistem yang paling banyak digunakan oleh ponsel-ponsel di dunia. Saat ini pesaing terdekat Symbian adalah Windows Mobile dari Microsoft.

Bagaimana kinerja keuangan Nokia saat ini?
Hingga kuartal I/2009, Nokia membukukan penjualan bersih anjlok 26,7% dari Euro 12,6 miliar menjadi Euro9,3 miliar. Pendapatan tersebut dikonsolidasikan dari penjualan perangkat dan layanan yang turun 33,4% dari Euro9,2 miliar menjadi Euro6,2 miliar, Navteq sekitar Euro134 (karena baru diakuisisi Juli 2008) dan dari Nokia Siemens Network yang juga turun 12,2% dari Euro3,4 miliar menjadi Euro2,9 miliar.

Penjualan Nokia sangat terdongkrak dengan penjualan seri Nokia 5800 XpressMusic pada jumlah 2.6 juta unit sejak diluncurkan November 2008. Diharapkan ponsel Nokia 5530 Xpress Music juga bisa mengulangi kesuksesan ponsel musik dengan layar sentuh pertama bagi Nokia.

Saat ini Nokia juga mengestimasi market share mobile device pada kuartal I/2009 sebesar 37% atau anjlok 5,1% dibandingkan periode yang sama pada 2008 pada kisaran 39%. Diharapkan pangsa pasar Nokia akan tumbuh selepas peluncuran seri terbaru tersebut, baik E72, 5530 XM dan 3710 Fold.

Khusus untuk Indonesia, strategi apa yang akan dilakukan? Saat ini, popularitas Blackberry sudah bisa mengalahkan Nokia bahkan vendor besar lainnya?

Kami akan terus fokus mengembangkan produk-produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Saat ini, Nokia juga tengah menjajaki dengan operator telekomunikasi lokal di Indonesia untuk layanan pushmail melalui fitur Nokia Messaging. Seperti pihak PT Telkomsel, PT Indosat Tbk (ISAT) dan PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL). Namun bentuk kerjasama secara lebih lanjut belum bisa dibeberkan ke media saat ini.

Intinya, layanan Nokia Messaging yang masih dalam tahap percobaan (beta) dan masih digratiskan (di luar biaya GPRS) nantinya akan menjadi berbayar. Pengguna juga dapat menikmati layanan tersebut secara penuh melalui penawaran dari operator, mirip layanan email operator di Blackberry keluaran RIM yang juga telah dibundling saat pembelian dengan tiga operator terkemuka di Indonesia tersebut.

Nokia Messaging adalah layanan yang menghubungkan beragam akun email terkemuka dan digabung dengan email korporat pengguna Nokia, Mail for Exchange dan IBM Lotus Notes Traveler, yang menyajikan akses langsung kepada lebih dari 90% inbox korporat di seluruh dunia.

Dengan Nokia Messaging, pengguna akan dimudahkan dalam menerima dan mengirim email secara otomatis, kapan dan di mana pun seperti halnya sms. Kelebihan Nokia Messaging lainnya adalah memungkinkan email yang kita terima dalam bentuk HTML.

Email berbayar ini dikhususkan untuk ponsel yang beroperasi sistem Symbian 60 seperti E-Series maupun N-Series serta beberapa ponsel seri 5,6 maupun 7. Sedangkan untuk segmen menengah ke bawah, Nokia telah menyertakan OviMail pada ponsel beroperasi sistem Symbian 40.

Gadget apa yang Anda miliki sekarang ini?
Nokia N97. Perangkat ini merupakan ponsel tercanggih yang dimiliki Nokia sekarang yaitu penggabungan ponsel, kamera, laptop, console game dan GPS Map dalam sebuah perangkat mini. Sebelumnya saya memakai Nokia E71. Saya memakainya sejak pertama kali diluncurkan.

Profil:
Nama : Chris Carr
Jabatan :
Sejak 1 Januari 2008 : Vice President Sales Nokia Asia Tenggara dan Asia Pasifik yang melingkupi pasar Australia, Selandia Baru, Emerging Asia (Bangladesh, Sri Lanka, Nepal, Bhutan dan Maldives), Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Indocina (Vietnam, Laos dan Kamboja)
November 2005 – Desember 2007 : General Manajer Nokia Singapura
2003 – 2005 : Direktur Keuangan Nokia Asia Pasifik yang khusus menangani bisnis perangkat mobile.
2000 : Direktur Keuangan Nokia Asia Pasifik yang berbasis di Singapura
1997 : Controller Role Nokia Australia
1995 : Mobile Networks Management Accountant Nokia di Inggris
1991 – 1995 : Management Akuntan Nokia yang mendukung penjualan perangkat di Australia
Status : Menikah, sudah memiliki 4 anak

Ingin Indonesia Bebas Sampah

Setiap harinya, pasar tradisional di Indonesia memproduksi ribuan ton sampah organik, yang menjadi sumber tak terbatas bahan baku untuk kompos berkualitas tinggi. Program Kompos Sampah Pasar ’NOTHING WASTED’ Danamon Go Green ini mengubah sampah-sampah pasar yang merupakan masalah besar menjadi ‘emas’. Secara bersamaan, program ini juga mengurangi penggunaan pupuk kimia dan menciptakan pertanian yang ramah lingkungan.

Berikut petikan wawancara dengan Direktur Eksekutif Yayasan Danamon Peduli Risa Bhinekawati yang bercita-cita menginginkan Indonesia bebas sampah dan mengubah sampah menjadi berkah. Saya berhasil wawancara beliau pada 31 Desember 2009 di sela kunjungan ke sebuah pasar di kawasan Bogor.

Apa latar belakang Anda tertarik menggeluti bidang sampah terutama sampah di pasar tradisional?
Dari sekian banyak penghasil sampah, pasar tradisional menjadi salah satu tempat produksi sampah dalam jumlah besar. Setiap hari, pasar tradisional di Indonesia menghasilkan ribuan ton sampah. Sebelum diangkut ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA), sampah-sampah tersebut biasanya dibiarkan menumpuk di tempat pembuangan sementara di sekitar pasar. Sehingga membentuk wajah pasar tradisional yang kotor dan bau. Maklum, 70% hingga 90% sampah pasar tradisional adalah bahan organik yang mudah busuk.

Ternyata, jika dikelola dengan baik, sampah yang selama ini menjadi masalah dapat menjelma menjadi berkah. Sampah organik terbukti bisa diubah menjadi pupuk organik (kompos) berkualitas tinggi untuk pertanian.

Kenapa harus menjadi pupuk organik?
Di negara seperti Indonesia yang distribusi pupuk kimia ataupun input pertanian lainnya tidak selalu dapat diandalkan, praktik organik ini akan meningkatkan penghidupan masyarakat pedesaan. Sebelum tahun 1970-an, petani Indonesia telah terbiasa dengan pertanian organik dan berkelanjutan, menggunakan kompos, pestisida alami dan benih indigeneous (asli/murni). Praktik pertanian berubah drastis di tahun 1970-an ketika pemerintah masa itu mencanangkan ‘Revolusi Hijau’ di mana para petani ‘dilatih secara massal’ untuk mengganti praktik pertanian organik menjadi praktik pertanian yang ‘modern’, menggunakan pupuk kimia, pestisida, dan benih modifikasi buatan manusia. Selama beberapa periode, terjadi peningkatan yang signifikan dalam produksi pangan. Namun, mulai pada tahun 2000-an, para petani menyadari bahwa kualitas lahan telah mengalami degradasi yang signifikan. Kualitas tanah di Jawa hanya memenuhi 60% kualitas tanah yang subur. Para petani harus menambahkan semakin banyak pupuk kimia untuk mempertahankan tingkat produksi yang sama. Dosis pemakaian pupuk kimia yang dulu hanya 70kg/Ha pada saat diperkenalkan di tahun 1970-an, kini telah mencapai 1 ton/Ha. Penggunaan pupuk kimia menjadi beban bagi petani, juga mengakibatkan kemiskinan di desa.

Lantas, kenapa harus sampah di pasar tradisional?

Pasar tradisional dan pertanian merupakan pilar perkembangan sosial ekonomi masyarakat Indonesia terutama masyarakat kecil. Bagi mereka, pasar tradisional bukan hanya sekadar menjadi wadah terjadinya transaksi jual beli berlangsung, melainkan selama berabad-abad turut memegang teguh dan melestarikan nilai-nilai serta interaksi sosial masyarakat. Meningkatkan kondisi kesehatan dan kebersihan pasar tradisional akan membantu mereka bertahan dalam menghadapi persaingan dengan bisnis modern saat ini Sehingga juga akan membantu pelestarian nilai-nilai sosial serta budaya dari komunitas pasar tradisional di Indonesia.

Berdasarkan data Asosiasi Pemerintah Kabupaten/Kota Seluruh Indonesia (APKASI), jumlah pasar tradisional saat ini 13.450 dengan jumlah pedagang sebanyak 12.650.000 di mana sekitar 50 juta jiwa atau 25% rakyat Indonesia menggantungkan kehidupannya kepada pasar tradisional. Jika eksistensi pasar tradisional tidak kita perbaiki bersama, berarti 12,6 juta wirausaha terancam kehilangan pekerjaannya.

Kondisi ini sangat mengkhawatirkan, karena dari penelitian AC Nielsen pertumbuhan pasar modern antara 2004-2006 adalah sebesar 34,1%, sementara pasar tradisional mengalami kemunduran sebesar -8,1%.

Salah satu alasan utama kemunduran itu adalah buruknya kondisi kebersihan dan kesehatan lingkungan pasar tradisional dikarenakan sampah yang tidak terkelola dengan baik.

Sebenarnya program ini seperti apa?
Yayasan Danamon Peduli memberikan bantuan peralatan unit pengolahan sampah pasar menjadi pupuk organik. Alat ini telah mampu mengkonversi 97 ton sampah organik dari pasar menjadi 38,8 ton pupuk organik berkualitas tinggi. Sampai Agustus 2009, Danamon Peduli telah menyelesaikan 28 dari 31 unit kompos. Setiap bulannya program ini mengkonversi 442 ton sampah organik menjadi 103 ton kompos berkualitas tinggi. Sementara kualitas pupuk yang dihasilkan ini juga telah melalui uji laboratorium dan hasilnya telah memenuhi 20 parameter pupuk ideal berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI).

Total investasi sosial yang diberikan Yayasan Danamon Peduli kepada masing-masing bupati / walikota tersebut mencapai Rp100-120 juta. Investasi ini dalam bentuk hibah berupa proyek percontohan sistem pengelolaan sampah terpadu dengan mengkonversi sampah pasar tradisional menjadi kompos berkualitas tinggi, menyediakan desain proyek, bangunan, mesin, pelatihan manajemen dan operasional pembuatan kompos, modal kerja selama satu bulan, uji laboratorium serta pemantauan dan evaluasi.

Nantinya dengan pupuk organik tersebut, pemerintah daerah setempat bisa menjual kembali pupuk organiknya dengan harga lebih murah daripada harga pasar. Biasanya mereka menjualnya kembali sebesar Rp500 per kg. Untungnya, dana ini akan kembali ke pengelola pasar setempat. Bahkan beberapa pengelola pasar juga sudah tidak bergantung lagi dengan Danamon Peduli dan mereka sudah berdikari.

Apakah Yayasan ini dibentuk langsung mengurusi masalah sampah?
Belum. Danamon Peduli memulai kegiatannya pada tahun 2001. Sejak tahun 2004 lebih memusatkan perhatiannya pada program yang dipelopori oleh komunitas (community-driven development) dan proyek-proyek berkelanjutan yang menekankan partisipasi relawan.

Baru pada tahun 2006, Danamon Peduli memfokuskan tiga program utama. Yang pertama memfokuskan pada revitalisasi pasar tradisional (pasar basah) di Indonesia. Kedu,a untuk membantu korban bencana alam. Ketiga, merupakan program baru dan inovatif, bernama ‘Danamon Go Green’, yaitu pihak Yayasan bekerjasama dengan 31 pemerintah daerah untuk mengkonversi sampah organik pasar dari masing-masing pasar basa di wilayahnya menjadi kompos berkualitas tinggi.

Apa yang pertama kali Anda kerjakan waktu itu?
Awalnya, program ini dijajaki sejak bulan Juli 2007 di Pasar Ciputat, Banten, dan berlanjut dengan keberhasilan dua proyek percontohan di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Sragen, Jawa Tengah. Tahun 2008 program ini telah berjalan di lima kaupaten, yaitu Bantul, Sragen, Wonosobo, Pacitan dan Grobogan. Secara keseluruhan, program ini direplikasi di 31 kabupaten/kota sampai akhir tahun 2009.

Apakah Anda sanggup sendirian mengurusi itu?
Tentu tidak. Kami juga bekerjasama dengan Danamon Simpan Pinjam (DSP) yang merevitalisasi pasar tradisional menjadi Pasarku: Bersih, Sehat, Sejahtera (PBSS). Program itu telah diluncurkan sejak 2004 dan melibatkan hingga 6.771 relawan di tahun 2006. Serta menjangkau 312.284 penerima manfaat di seluruh Indonesia.

Kemudian, di tahun 2007, Yayasan Danamon Peduli melibatkan 11.194 relawan dan mengjangkau 558.785 penerima manfaat di seluruh Indonesia. Melalui kegiatan PBSS tersebutt, 7.000 karyawan yang berada di 700 lokasi cabang DSP menjadi fasilitator bagi para pihak terkait. Seperti pengelola pasar, pedagang, Dinas Perdagangan, Dinas Kebersihan, Dinas Kesehatan, Pemerintah Daerah, LSM Lokal dan pihak-pihak lainnya.

Apakah program itu langsung diterima oleh masyarakat?
Tidak juga. Justru kami telah menyetop program kami dengan pasar di Ciputat Banten. Padahal pasar itu merupakan proyek percontohan pertama kali. Namun karena mereka hanya minta program saja dan tidak bisa berkembang sendiri (termasuk dana saja), maka kami memberhentikan program kemitraan dengan pasar tersebut.

Seperti apa indikasi kesuksesan program tersebut?
Kami mengadopsi metode Balanced Scorecards untuk memantau 14 indikator kesuksesan yang mencakup aspek pemasaran, produksi, kualitas kompos yang dihasilkan, sumber daya manusia, dan komitmen dari pemerintah daerah. Tiap indikator memiliki bobot nilai 7.1%, dan pencapaian pemerintah daerah diukur dengan ‘Seberapa hijaukah mereka?’, yang menggambarkan seberapa baik mereka dalam memenuhi indikator-indikator tersebut.

Setiap bulannya, pemerintah daerah mengirimkan laporan perkembangan yang selanjutnya diolah dalam sistem manajemen pengetahuan Yayasan Danamon Peduli. Kemudian, setiap tiga bulan sekali, Danamon Peduli akan menyampaikan laporan kepada pemerintah daerah untuk memperlihatkan pencapaian mereka dibandingkan dengan yang lain. Mereka dikategorisasikan sebagai ‘hijau tua’ jika mencapai 85% dari indikator, ‘hijau sedang’ untuk pencapaian indikator sebesar 60-80%, dan ‘hijau muda’ apabila indikator yang dicapai kurang dari 60%. Dengan menggunakan sistem pelaporan seperti ini, pemerintah daerah dapat membandingkan pencapaian keseluruhan mereka dengan yang lainnya sehingga mampu mengambil langkah-langkah tindak lanjut sesuai dengan hasil tersebut.

Lantas siapa yang paling jelek itu?
Sudah tahu kan? Pasar Ciputat Banten. Mereka sudah saya drop out (DO). Sehingga harus diganti yang baru.

Unik juga ya?
Iya dong. Saya seperti memiliki 31 mahasiswa di seluruh Indonesia dan saya seolah menjadi kepala sekolah dari 31 mahasiswa itu. Uniknya juga saya memiliki mahasiswa berupa kepala pemkab/pemkot seluruh Indonesia. Kebayang kan susahnya? Tiap tiga bulan pula saya harus memberikan raport dan memberikan penyuluhan. Kalau bagus bisa menjadi contoh yang lain, kalau jelek ya kita DO.

Apakah program ini akan mentok dengan 31 kabupaten saja?
Untuk sementara ya. Karena saya menginginkan kualitas bukan kuantitas. Saya juga ingin mereka berhasil dulu. Jika berhasil, mereka akan menjadi contoh terutama para pemimpin kota/kabupaten lainnya. Sehingga kalau sudah jalan program ini, untuk mereplikasinya ke daerah lain juga makin gampang. Namun saya merencanakan di tahun 2010 akan ada 5 mahasiswa lagi. Tapi semua akan digodok dulu. Kini yang akan masuk adalah kabupaten Pekalongan, Tulungagung dan Minahasa Utara.

Mana saja 31 kabupaten / kota yang telah menerapkan program tersebut?
Di Sumatra ada kota Payakumbuh, Pekanbaru, Tapanuli Selatan dan Tanjung Balai. Sementara Jawa ada Jakarta Pusat, Bogor, Bantul, Sragen, Grobogan, Banjarnegara, Kendal, Purbalingga, Magelang, Klaten, Rembang, Pemalang, Wonosobo, Jepara, Semarang, Temanggung, Pacitan, Bojonegoro, kota Probolinggo dan kabupaten Probolinggo. Sedangkan di Sulawesi adalah Kabupaten Soppeng, Barru, Gowa, Sidrap, Pinrang, kota Bitung dan Palopo.

Apakah sudah ada indikasi kesuksesan yang diterapkan oleh masing-masing pemkab/pemkot atas program ini?
Anda bisa melihat Kepala pemerintah daerah yang peduli seperti Bpk. Idham Samawi, Bupati Bantul dan Bpk. Wiyono, Bupati Sragen yang telah mendukung para petani di wilayahnya untuk kembali kepada pertanian organik. Mereka membantu perbaikan kondisi lahan dengan membangun kapasitas komunitas untuk memproduksi pupuk organik, memperkenalkan kembali pertanian organik dan menyiapkan strategi untuk mendukung petani melewati masa transisi baik dalam hal infrastruktur dan pendanaan. Diperlukan waktu setidaknya 6 kali panen (sekitar 2 tahun) untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia dari 1.2 ton/Ha menjadi 200kg/Ha. Kemungkinan diperlukan jangka waktu lima tahun sebelum lahan dapat dijadikan organik sepenuhnya.

Upaya ini telah membuahkan hasil. Petani bawang merah di Bantul telah berhasil menurunkan penggunaan pupuk kimia hingga 70% dalam jangka waktu 2 tahun dengan peningkatan produksi bawang merah sampai 30%. Sragen telah memproduksi beras 100% organik, dengan marjin laba yang lebih baik bagi para petani.

Program ini juga memberikan keuntungan sosial, ekonomi dan lingkungan bagi masyarakat Bantul, dimana 14% tergantung dari pasar tradisional, dan 42% dari pertanian. Selain itu, banyak juga keuntungan berbeda di daerah-daerah lainnya.

Kabarnya program ini menang dalam kompetisi dunia?
Kami mendaftarkan program ini dalam kompetisi di BBC World Challenge 2009. Tanggal 13-17 Juli One Planet Pictures telah datang ke Indonesia untuk mendokumentasikan ‘NOTHING WASTED’ Danamon Go Green yang akan disiarkan oleh BBC World News pada hari Sabtu, 24 Okt jam 21:30 WIB (14:30GMT), Minggu, 25 Okt jam 9:30 dan 16:30 WIB (2:30 dan 9:30 GMT) dan Senin, 26 Okt jam 00.30 WIB (25 Okt 17:30GMT).

Untuk membuat film kompos sampah pasar ’NOTHING WASTED’, Bapak Max Gonzales dari One Planet Pictures melakukan perjalanan ke enam kota di empat provinsi, dan mengambil gambar di 11 lokasi yang berbeda dalam jangka waktu tiga setengah hari (13-17 Juli 2009). Max mewawancara sepuluh tokoh utama dan lebih dari 20 tokoh pendukung, mulai dari Bupati sampai petani dan pedagang pasar.

Ada yang bisa diceritakan dari pembuatan film tersebut?
Sangat melelahkan tapi sangat menyenangkan. Syuting selama tiga setengah hari ternyata cuma nongol di televisi hanya tujuh menit. Syukurnya, kami telah terpilih menjadi salah satu dari finalis yang terseleksi dari 900 program pengembangan masyarakat dunia dan merupakan satu-satunya program yang mewakili Indonesia pada kompetisi tersebut.

Lantas untuk menjadi finalis tersebut, kami harus meraih dukungan melalui voting online di internet mulai 28 September - 13 November 2009 yaitu melalui situs www.theworldchallenge.co.uk.

Saya sendiri mempromosikan program tersebut kepada teman-teman saya melalui situs jejaring sosial Facebook dan situs jejaring lainnya. Bahkan saya membuka buku telepon lama dan menghubungi semua teman-teman lama saya dulu. Beruntung suami dan anak semata wayang juga mendukung. Mereka berdua juga ikut mempromosikan untuk melakukan voting dengan menghubungi teman-teman mereka. Begitu juga dengan media. Akhirnya kami berhasil masuk menjadi 12 finalis dan masuk tiga besar.

Atas pencapaian tersebut, Danamon Peduli melalui program Nothing Waste-nya mendapatkan juara Runner Up I (Juara II) dalam pengumuman di Denhaag Belanda pada 5 Desember lalu. Proyeknya hanya kalah oleh proyek bola lampu dari Srilanka. Dengan penghargaan tersebut, Danamon Peduli berhak membawa dana hibah sebesar USD10.000. Tapi dana tersebut akan dialokasikan kembali untuk mengembangkan manajemen pengetahuan program Danamon Peduli ke depannya.

Apa yang akan Anda lakukan ke depan?
Dalam tahun 2010 ini, kami akan menyelenggarakan pemecahan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk membersihkan 777 pasar tradisional di seluruh Indonesia. Jumlah tersebut naik daripada pemecahan rekor di tahun 2009 yang hanya 750 pasar tradisional. Selain itu saya juga sedang mengambil beasiswa untuk program PhD di Australia. Rencananya saya akan berangkat pada 7 Januari 2010. Konsennya tetap ke lingkungan hidup. Doakan.

Apa kesan Anda selama ini terhadap program yang telah Anda rancang tersebut?

Saya hanya bisa bersyukur karena saya bisa seperti ini dan bisa bertemu dengan pemimpin lokal yang hebat dan peduli dengan permasalahan di lingkungannya. Tapi Indonesia tidak seakan bermimpi untuk menjadi bangsa yang besar jika mau memulai sesuatu dari hal yang kecil, contohnya sampah. Dengan sedikit upaya tersebut, saya ingin menggemakan ke dunia bahwa Indonesia juga bisa berprestasi. Tidak hanya soal korupsi, polusi, musibah atau hal-hal stereotip negatif lainnya.

Bagaimana Anda mengatur waktu dengan keluarga?
Kebetulan anak semata wayang berada di asrama dan suami bekerja di luar kota. Sehingga hal tersebut menyebabkan kami malah jarang saling bertemu. Tapi di situlah nikmatnya. Kami dituntut untuk saling percaya dan memegang teguh komitmen untuk berkeluarga. Dengan kecanggihan teknologi, kami juga sering berkomunikasi untuk mengobati rasa kangen.

Lantas kapan Anda bisa berkumpul dengan keluarga?

Biasanya di akhir pekan. Tapi keluarga kami cenderung keluarga sederhana. Tidak ada yang serba wah di keluarga kami. Apalagi suami juga tidak terlalu neko-neko. Paling cuma minta dibuatkan teh atau kopi. Kita sudah sadar dengan tugas masing-masing dan sebisanya saling membantu kalau ada kesulitan.

Tidak ada yang mewah, maksudnya apa?
Semua hal terutama materi dan kekayaan. Itulah yang saya tanamkan sedari kecil kepada anak semata wayang. Bahkan saya juga hanya memakai anting yang saya beli di pasar tradisional. Harganya cuma Rp150.000. Anda bisa ngecek kalau tidak percaya. Terlebih lagi jam tangan. Hingga saat ini saya cuma setia dengan jam tangan merk Alba yang harganya juga tidak seberapa. Hal itu saya lakukan karena saya orangnya pelupa. Dan sering pada suatu waktu, saya selalu kehilangan (atau kadang jatuh) baik terhadap anting maupun jam tangan. Sehingga saat perhiasan itu hilang, saya tidak kaget dan bisa beli lagi. Saya juga tidak membayangkan kalau saya punya berlian dan itu jatuh. Malah repot.

Anda juga bisa melihat, baju saya juga cuma batik. Kadang Anda juga bisa melihat pada suatu kesempatan akan menemukan baju batik yang sama. Itu karena saya tidak ribet dalam urusan pakaian. Yang penting nyaman dan murah meriah.

Memang materi itu penting, tapi materi itu bisa dikejar jika punya ilmu. Itu yang saya tanamkan kepada anak saya. Dari awal, memang saya suka menuntut ilmu. Terutama jika ada kesempatan, saya akan langsung mengambilnya. Itu sudah terbukti dari karir saya. Dan mulai awal 7 Januari ini, saya akan mengajak anak semata wayang untuk tinggal di Australia. Kebetulan saya sudah mengusahakan untuk anak saya agar mendapat relationship citizen, yaitu orang tua yang mendapat beasiswa boleh membawa serta anaknya. Di sini anak saya juga akan menuntut ilmu bersama saya. Rencananya saya akan mengambil program doktor PhD selama empat tahun.

Suami tidak diajak?

Tidak, untuk sementara pisahan dulu. Nanti kalau kangen kan tinggal nyebrang. Australia dan Jakarta kan tidak jauh. Tiap hari bisa calling-calling-an kok.

Biodata Pribadi:

Nama : Risa Bhinekawati
Tempat/Tanggal lahir : Pontianak, 4 Februari 1966
Status : menikah; suami: Adhyasa Yutono; anak: Rifqi Satya Adhyasa (14 tahun)
Pekerjaan sekarang : Ketua Umum dan Direktur Eksekutif Yayasan Danamon Peduli (2004-2009)
Sekarang : Melanjutkan beasiswa studi di Australian National University untuk program PhD di bidang lingkungan hidup (mulai 7 Januari 2010)

Pekerjaan sebelumnya:
1.Koordinator Perencanaan Strategis, Academy for Educational Development, Washington DC, Amerika Serikat (August 2006 – March 2007)
2.Kepala Divisi Corporate Affairs, Unilever Indonesia (Desember 2003 – Juli 2005)
3.Chief Operating Officer, Kemitraan bagi Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan, UNDP (United Nations Development Program) Indonesia (Februari 2003 – Oktober 2003)
4.Kepala Direktorat SDM dan Pengembangan Organisasi, PT Ericsson Indonesia (Juni 2001 – Januari 2003)
5.Sekretaris Jenderal, Asosiasi Produsen Serat Sintetis Indonesia (Januari 2000 – Mei 2001)
6.Direktur Eksekutif, Masyarakat Telekomunikasi Indonesia (Januari 1997 – Desember 1999)
7.Senior Commercial Specialist, Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta (Maret 1991 – Juni 1996)

Pendidikan:
1.SMA 70, Jakarta (1984)
2.D3 Sekretaris, LPK Tarakanita (1987)
3.Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia (1992)
4.MBA, Australian National University, Australia (1999)
5.Master of International Policy and Practice, George Washington University, Amerika Serikat (2006)

Penghargaan:
1.Merdeka Fellowship dari Pemerintah Australia (1998)
2.Merriman Fellowship dari George Washington University (2005)
3.Australian Leadership Award dari Pemerintah Australia (2009)
4.Allison Sudrajat Award dari Pemerintah Australia (2009)

Alamat : Jl. AMD 4B RT 01/07 Sawah Lama, Ciputat Baru, Tanggerang 15413 Indonesia

Ingin Cetak 1 Juta Miliarder Sebelum 2020


RAPBN 2010 menjanjikan lapangan kerja baru bagi 1,87 juta tenaga kerja dengan target pertumbuhan 5%. Dari target ini,pengangguran bisa ditekan 8%. Terkait hal ini, Bank Dunia memprediksi bahwa kinerja perekonomian Indonesia tahun 2009 akan lebih baik, meski target pertumbuhannya melambat.

Di sisi lain, perekonomian tahun 2009 masih akan terbebani oleh kemiskinan dan pengangguran. Karena itu, sangat penting bagi pemerintah menumbuhkembangkan etos kewirausahaan di kalangan generasi muda agar mereka tumbuh menjadi wirausahawan baru.

Mencoba menawarkan sebuah solusi, ActionCoach memberikan bantuan kepada calon wirausahawan baru maupun pemilik bisnis bahkan CEO perusahaan kecil maupun besar yang menginginkan perusahaannya lebih maju melalui sebuah cara konsultasi bisnis dan dukungan dana dari pihak ketiga.

Berikut petikan wawancara dengan Herman Susanto, pemilik bisnis ActionCoach dan satu-satunya pemegang lisensi ActionCoach di Indonesia.

Apa yang melatarbelakangi Anda mengembangkan bisnis Coach (pelatih bisnis) tersebut?
Saya melihat pertumbuhan penduduk di Indonesia yang begitu pesat. Namun tidak diimbangi oleh populasi pengusaha sukses, hingga yang terjadi justru tumbuh suburnya
pengangguran dan terjadi penutupan usaha dimana-mana. Hal tersebut mulai terpikirkan sejak krisis ekonomi tahun 1998 yang menjadi tonggak bersejarah kemerosotan roda
ekonomi. Sejak tahun itu laporan keuangan kas negara makin diwarnai dengan
raport merah, termasuk kestabilan keamanan dan kenyamanan.

Latar belakang bisnis saya berawal dari meneruskan usaha orang tua, yaitu bisnis pelayaran. Tahun 2002 saya memutuskan untuk meninggalkan usaha warisan orang tua dan mendirikan pelatihan bisnis agar bisa membantu orang mencari uang dengan baik dan halal.

Hingga pada tahun 2002, saya menemukan motivator sekaligus pemilik bisnis Brad Sugar. Saya sangat terinspirasi dengan bisnis franchise ActionCOACH, karena
melihat kesuksesan Brad Sugars dalam membantu pebisnis di berbagai negara menjadi sukses. Saya melihat begitu banyak pemilik bisnis membuka usaha, namun tak banyak yang bisa bertahan di lima tahun pertama. Tapi Brad sangat luar biasa, itulah sebabnya saya membawa bisnis ini ke Indonesia. Dan di tahun tersebut, saya berkeyakinan membeli franchisee ActionCoach dan mengembangkan virus wirausahawan tersebut di sini. Dan di tahun tersebut pula menjadi tonggak sejarah industri pelatih bisnis di tanah air.


Apa yang membuat Anda yakin dengan bisnis yang ditawarkan Brad Sugar? Sebenarnya siapa dia?
Brad Sugar adalah orang biasa asal Brisbane Australia. Sejak usia 15 tahun, dia sudah memiliki bisnis dengan bekerja sebagai pekerja lepas. Seiring dengan waktu, ia mencoba mengembangkan insting bisnisnya itu ke berbagai bisnis lainnya, dan selalu berhasil.
Bagi anak muda berusia belia ini, bisnis adalah passion. Ketika anak lain seusia dirinya masih menikmati masa remaja, bocah yang suka mempekerjakan teman-temannya sebagai pengantar koran ini selalu berpikir bagaimana cara mencari pembeli yang kemudian menjual kembali kepada yang lain dengan harga yang lebih tinggi. Itulah mind set Bradley J Sugars kecil, pendiri ActionCOACH 16 tahun lalu.

Sejak meninggalkan bangku kuliah jurusan akuntansi, yang saat itu ia berusia 21 tahun, Brad mulai berinvestasi kepada dirinya sendiri. Ia mulai belajar bagaimana membangun bisnis. Hasil uang dari usaha kecil-kecilan itu ia kumpulkan dan ia belanjakan untuk mendapat ilmu yang lebih baik.

Seiring dengan waktu, Brad mulai menerapkan ilmu bisnisnya itu yang ia peroleh sejak kecil secara otodidak. Dan uniknya, setiap bisnis yang ia tangani selalu berhasil. Mulai dari bisnis salon, industry pizza, toko retail, usaha fotocopy dan banyak lagi.

Seiring dengan proses membangun bisnis sendiri yang jumlahnya cukup banyak, Brad juga menyempatkan diri sebagai seorang konsultan bisnis. Dimulai dari membantu usaha kecil disekitar rumahnya, nama Brad mulai dikenal. Bahkan berkat kepandaiannya membantu klien, Brad sering diundang ke berbagai seminar, temanya bagaimana membangun bisnis yang sukses.

Tahun 1993, Bradley J Sugars resmi mendirikan usaha bergerak di bidang pelatih bisnis yang ia beri nama Action International. Usaha ini berbentuk franchise. Dari waktu ke waktu, bisnis franchise dibawah bendera Action International ini mulai bertumbuh pesat di kota asalnya, Brisbane Australia.

Tahun 1994 sekitar 350 pemilik bisnis dan tujuh trainer di seluruh dunia menggunakan jasa Brad Sugars. Dalam waktu yang cukup singkat 15 tahun lamanya, ia kini berhasil
membangun perkantoran yang cukup besar di beberapa negara selain di Australian itu sendiri, misalnya di New Zealand, USA, Inggris, Singapura, Irlandia, Wales, Malaysia, China, Canada, Mexico dan banyak lagi. Kini ActionCOACH telah memiliki lebih dari 1000 pelatih bisnis (coach) di 47 negara dunia.

Apa beda “Coach” dengan “Motivator” yang selama ini mendominasi bisnis di tanah air?
Kata “pelatih bisnis” sangat akrab di telinga dunia olahraga. Mulai olahraga bulu tangkis, golf hingga sepak bola. Namun “Coach” tak asing lagi di dunia maju, seperti Amerika, Singapura, Inggris hingga China misalnya. Kendati demikian, industri pelatih bisnis tetap saja menjadi hal yang pada awalnya asing bagi banyak pengusaha Indonesia.

Jika “Motivator” hanyalah seorang pembicara yang mendorong atau membangkitkan kesadaran seseorang terhadap pikirannya. Namun yang digerakkan di sini hanya sebatas pikirannya saja, hanya membuka wawasannya saja untuk bergerak lebih lanjut.

Nah, jika tidak ada bimbingan lebih lanjut, bisa saja setelah acara usai, peserta motivasi ini bakal kehilangan momentum untuk bergairah lagi. Di sini mereka (motivator) yang ada hanyalah individu yang mengklaim dirinya adalah seorang coach.

Beda dengan “Coach” yang memang berarti seorang pelatih. Hal tersebut bisa dianalogikan dengan permainan catur. Yang satu belajar otodidak, dan yang lainnya dibimbing oleh seorang ahli di bidangnya. Hasilnya, tentu akan lebih baik yang memakai pelatih.

Apakah Anda yakin sukses dengan bisnis tersebut?
Kita harus yakin. Seorang Tiger Woods (pegolf) yang sudah handal saja masih memerlukan pelatih. Meski dia sudah memiliki keahlian khusus di dunia pe-golf-an, tapi saat bermain di lapangan dia tidak yakin menang, maka ada kemungkinan besar dia akan kalah. Nah apalagi kalau kita tidak yakin, makin besar peluangnya untuk kalah. Dan hal tersebut adalah suatu prinsip yang bisa diterapkan di semua hal. Saya yakin bisnis ini akan menjadi bisnis terdepan di masa kini dan masa depan.

Bagaimana Anda mengembangkan bisnis ini pertama kali di tanah air?

Pada awalnya mengembangkan bisnis franchise ini, hal tersebut bukan pekerjaan mudah. Ibarat hidup di tengah masyarakat yang tak memiliki budaya “pakai sandal”, saya berusaha untuk mengubah pola pikir, bagaimana memasyarakatakan sandal sebagai satu budaya baru.

Dari 100 hingga 300 pengusaha yang mengikuti seminar saya tentang pelatihan bisnis, tak satu pun yang tertarik dengan penawaran saya. Bahwa pemilik usaha seharusnya memakai jasa pelatih bisnis untuk mengembangkan bisnis mereka lebih sukses dan mandiri.

Saya hanya berkeyakinan dengan apa yang saya yakin benar adanya. Contohnya saja, 100 tahun lalu ketika Hendry Ford ingin menciptakan sistim transportasi modern kepada
masyarakat jaman dulu yang semuanya adalah pedestarian (pejalan kaki). Ide
Hendry dianggap “gila”. Masyarakat dulu merasa aneh melihat seorang memakai kendaraan berteknologi mesin di tengah para berkendaraan kuda.

Namun kini justru terbalik, sangat aneh orang memakai kendaraan kuda di tengah kendaraan bermesin bensin. Pun pada industri pelatih bisnis. Saya optimis, ketika
jaman sudah makin modern, justru pemilik bisnis yang tak memiliki “Coach”
yang akan terlihat aneh”.

Bagaimana prospek usaha ini?
Saya merasa sangat optimis dengan prospek industri pelatihan bisnis ini, dan itu sudah terbukti di tahun 2009 ini, yaitu sudah memiliki lebih dari 300 klien, 28 pelatih bisnis dan sudah mengembangkan kantor hingga ke Surabaya. Untuk bisnis seperti ini di tanah air, saya merasa bisa dihitung dengan jari.


Apa kendala yang Anda hadapi?

Delapan tahun lalu (saat usaha ini dirintis) saya masih berusia 31 tahun. Sementara saya harus berbicara tentang pentingnya memiliki pelatih bisnis bagi para pemilik usaha. Tak mudah memang, karena kebanyakan peserta adalah pengusaha senior yang sudah makan asam garam di bisnis.

Berbekal pengalaman organisasi di Persatuan Mahasiswa Indonesia (Permias) yang beranggota 250 mahasiswa di Amerika, saya hanya yakin saja. Justru tantangan ini menjadi sesuatu yang fun.

Namun perlahan, keengganan pengusaha 8 tahun lalu mungkin sangat beralasan, karena memang industri pelatih bisnis belum menunjukkan trennya. Namun kini, pemilik
bisnis sudah mulai berpikir dua kali jika tak punya coach, seolah memiliki
coach itu seperti punya handphone. “Hari gini gak punya handphone, apa kata
dunia”??

Para pemilik bisnis yang memiliki pola pikir konservatif (kolot) selalu berkeyakinan bahwa membangun bisnis tak perlu seorang pelatih. Bisnis bisa berkembang dengan
kerja keras dan semangat pantang menyerah. Pada kenyataanya, apa yang mereka yakini itu tak sepenuhnya benar.

Mereka boleh berpikir bahwa bisnis bisa berkembang tanpa pelatih bisnis. Namun jika dianalogikan, mana yang lebih baik antara atlit yang memiliki pelatih dengan yang tidak? Tentu atlit yang punya pelatih jauh lebih baik. Pun pebisnis, selalu yang punya pelatih bisnis jauh lebih baik dari sisi kualitas dibanding yang belum punya pelatih.

Apakah bisnis seperti ini sudah diakui secara internasional maupun nasional?
Masa keemasan industri pelatihan bisnis sebenarnya mulai mencapai titik terang sejak tahun 2007, bertepatan dengan pergantian nama dari Action International menjadi ActionCOACH. Di tahun itu pula ActionCOACH mendapat beberapa penghargaan.

Di antaranya penghargaan ISMBEA dari Suryadharma Ali Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah RI atas jasanya membantu bisnis para usaha keci (UMKM) pada tahun2007. Tahun 2008 mendapat penghargaan sebagai Best of the Best Franchise 2008 berdasarkan survey Franchisee Satisfaction Survey (FSS) yang diselenggarakan oleh
Majalah Info Franchise Indonesia dan The Bridge Consultant.


Apa fokus bisnis ini?

Saya mengutip cita-cita Brad Sugars membuat ActionCOACH adalah menciptakan
dunia berkelimpahan lewat re-edukasi bisnis. Bahwa bisnis seharusnya seperti mesin uang yang bisa mendatangkan banyak keuntungan tanpa memerlukan keterlibatan pemilik usaha di dalamnya. Dan itulah tujuan ActionCOACH kepada pada pemilik bisnis di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

ActionCOACH lebih fokus pada bagaimana membantu pengusaha (maupun calon pengusaha) untuk membangun sistim bisnis hingga bisnis bisa ditinggalkan, namun tetap profitable dan komersil serta bersifat enterprise.

Inilah bedanya antara pengusaha dengan entrepreneur. Satu sisi pengusaha adalah just profit oriented, namun pola ActionCOACH adalah profit dan system oriented.


Bagaimana ActionCOACH membantu pemilik bisnis dan seberapa efektifkan
peran pelatih bisnis?

ActionCOACH dapat membantu para pemilik bisnis dari banyak hal. Bantuan terbesar pelatih kepada anak didiknya adalah berupa “mindset sukses”. Dari sanalah semuanya dimulai. Jika mindset pengusaha berubah menjadi lebih positif, maka segala hal juga berubah menjadi positif, termasuk arah perusahaan dan kondisi cashflow pada akhirnya.

Bantuan lain berupa dukungan motivasi, monitoring, pelatihan dan bahkan transfer ilmu bisnis. Ibarat pemain sepakbola, peran pelatih menjadi sangat mutlak dan bahkan bersifat strategis. Seberapa baik pola penyerangan di lapangan, seberapa tangguh dan kompak tim, semuanya berasal dari peran pelatih. Tak heran, beberapa tim sepakbola dunia berani membayar pelatih jutaan dolar hanya untuk mendidik para pemainnya.

Bicara masalah keefektifan, ada beberapa faktor. Pertama adalah kualitas pelatih itu sendiri. Di Action, semua pelatih sudah terseleksi dengan sangat baik. Dan mereka baru dikatakan layak terbang jika sudah lulus uji. Pengujinya pun langsung dari Las Vegas Amerika. Dengan kata lain, bicara kualitas para pelatih Action tak diragukan lagi.

Faktor kedua dari pemain itu sendiri. Dalam hal ini adalah pemilik usaha. Walau bagaimana pun, peran pelatih selalu di luar lapangan. Mereka tak ikut main. Namun pemain itu sendiri yang paling banyak menentukan kearah mana kemenangan menuju.

Pelatih tidak ikut terlibat 100% namun sangat menentukan kemenangan pemain melebihi partisipasi pemain itu sendiri. Karena apa ? Karena pelatih justru memberi aneka strategi, formula, teknik dan juga alat ungkit hingga usaha yang dilakukan relatif minim namun berdampak maksimal. Bayangkan, berapa banyak usaha yang dilakukan tanpa
alat ungkit?

Kapan waktu yang tepat untuk memulai coaching program?
Pertama, atur pertemuan dengan team Action Coach (Pelatih) bisnis dan Anda sudah memulai jalan Anda. Anda harus investasi waktu untuk bertemu dengan pelatih (coach) bisnis dan menjelaskan lebih lanjut tentang bisnis Anda. Bersama pelatih, Anda mulai melakukan perencanaan bisnis dan melaksanakannya. Perlu diingat, seperti melakukan pekerjaan berat di awalnya, tapi dengan Action Coach, Anda berbagi dan bersama-sama akan meraih hal-hal yang besar dan luar biasa.

Bagaimana metode dalam pelatihan coaching ini dan berapa biayanya?
Untuk besar fee akan sangat tergantung dari skala perusahaannya. Hal tersebut berlaku pula bagi calon wirausahawan yang ingin mandiri dan memiliki usaha sendiri. Khusus untuk skala menengah ke atas, fee yang dibebankan adalah sekitar Rp50-100 juta per tahun. Intensitas pertemuannya akan dilakukan dua minggu sekali, minimal 12 bulan.

Tidak hanya itu saja, saya (bersama ActionCoach Indonesia) pun telah bekerjasama dengan salah satu bank swasta Indonesia untuk memberikan pinjaman lunak kepada calon wirausaha.

Intinya, dengan adanya pelatih bisnis ini, kita selaku calon wirausahawan baru maupun pemilik bisnis lama akan dibuka wawasannya tentang bisnis hingga ada bantuan pinjaman dana lunak untuk modal kerja. Pelatih bisnis pun akan memonitor pekerjaan kita selama masa kontrak kerjasama.

Perusahaan-perusahaan yang sudah menjadi klien ActionCoach adalah Sinotif Bimbingan Belajar, Prudential, Bank Mandiri, Bank BPR Sisibahari Dana, James Gwee Motivator, Yomart Mini Market dan lain-lain.

Lantas, apakah bisnis ini cocok diterapkan di tanah air tatkala kondisi sedang krisis?
Sebenarnya krisis adalah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Misalkan saja, saat kondisi sedang hujan, kita akan langsung mencari payung atau minimal berteduh. Nah, saat krisis datang, apakah lantas kita tidak menyiapkan sebelum semuanya bangkrut?

Apa yang Anda harapkan dari usaha ini?
Saya ingin mencetak 1 juta miliarder sebelum tahun 2020. Hingga saat ini, saya sudah menikmati hasilnya. Memang sejak saya lulus SMA, saya dididik tidak bekerja dengan orang lain, namun berbisnis sendiri. Mulai dari melanjutkan bisnis warisan keluarga di bidang pelayaran (masih eksis hingga sekarang) dan mulai menggeluti bisnis pelatihan coach ini sejak 2001 hingga sekarang.

Dulu, saya menginvestasikan sekitar Rp300 juta untuk investasi di bisnis ini dengan royalty ke ActionCoach pusat sebesar 5% per bulan. Hasilnya, saya merasakan dampak positif mulai dari pemikiran, kepribadian bahkan pendapatan (hingga 30 kali lipat daripada bisnis yang dulu).

Biodata Pribadi:
Nama Lengkap : Herman Susanto
Tempat Tanggal Lahir : Jakarta, 28 Desember 1969
Status : Anak sulung dari tiga bersaudara
Hobi : Main Golf, Baca Buku, Petualangan di alam terbuka dan sepeda
Pendidikan Terakhir : Bachelor of Science of Southern California, Amerika Serikat
Karir :
1. Founder and Master Franchise ActionCOACH Indonesia (2001 hingga sekarang)
2. Pengusaha dibidang perkapalan Organisasi : Ketua Permias di Kampus University of Southern, California AS
Visi : Pengusaha yang punya tujuan ingin mencetak 1 juta milyarder baru sebelum tahun 2020

Sekilas Tentang Brad Sugar
ActionCOAH adalah perusahaan waralaba yang bergerak dibidang pelatihan bisnis. Perusahaan ini selain bergerak di bidang edukasi bisnis juga di franchise-kan secara internasional. ActionCOACH didirikan oleh seorang entrepreuner brilian, Bradley J Sugars di Australia tahun 1993, sekarang berpusat di Las Vegas. Pada awalnya, pelatihan bisnis ini bernama Action International dan berubah nama menjadi ActionCOACH ditahun 2007.

Kini Bradley J. Sugars menjadi tokoh bisnis yang paling dikagumi oleh para pemilik bisnis. Usianya masih muda, namun kesuksesannya mencetak “milyarder” lewat ActionCOACH telah mengangkat namanya dijajaran tokoh paling berpengaruh dunia, seperti Rupert Murdoch, Henry Ford, Richard Branson, Anita Roddick dan banyak lagi. Bahkan ia sangat dihormati para pembaca e-Spy Magazine (majalah online yang mengupas seputar aktivitas rahasia cyber) karena prestasinya membantu para pemilik bisnis, terutama dalam hal reformasi sistem bisnis.

Selain seorang pengusaha sukses, Brad juga seorang penulis dan pelatih bisnis yang hebat. Karya-karya bukunya memberi banyak inspirasi sukses bagi para business owner. Mulai dari Instan Cashflow, Instan Advertising, Instan Profit, Action Speaks Louder Than Word, Billionaire in Training, Sales Rich DVD hingga Leverage Game. Semua buku, DVD dan alat permainan itu diciptakan oleh pakar francise sistim bisnis itu sendiri.

Pada tanggal 25-26 November 2009, Brad Sugar datang ke Indonesia dalam seminar bertemakan Brad Sugar Billionare in Training.

(berdasarkan wawancara pribadi tgl 8 Agustus 2009)

Sang Penjual Barang Inovatif

Wow..gw kagum ama orang ini. Beliau gw wawancara di kantornya di kawasan Cideng Jakarta Barat pada 4 April 2009 lalu. Siapa tahu bisa menginspirasi!!

Banyak orang berkata bahwa kesuksesan hanya bisa diraih dengan kerja keras (work hard) dan kerja cerdas (work smart). Di DRTV, semangat kerja keras dan kerja cerdas tersebut dituangkan dalam Lima Keberanian (5ive Brave) yang menjadi falsafah kesuksesan DRTV di Indonesia. Bagaimana kisah Salim Kartono, sang penjual barang-barang inovatif ini merintis karir sekaligus CEO PT Paramitra Media Perkasa (sebuah holding company yang membawahi beberapa anak perusahaan yang bergerak di berbagai bidang) dan menjadikan tokonya sebagai salah satu toko ritel berpengaruh di pasar?

Bagaimana awal usaha DRTV ini?

Pada tahun 1983, kami mulai merintis usaha melalui direct sale dengan nama PT. Panji Metal Perkasa yang saat itu banyak menjual produk home appliance merek Imarflex, Narumi, Demeyere dan produk alat kesehatan merek Medo hingga panci stainless steel dan panci gelas tahan panas dari pintu ke pintu.

Pada tahun 1995, kami melihat peluang bisnis yang baru yaitu menjual product lewat TV atau direct respond TV yang bisa dibeli lewat pemesanan lewat telephone atau telemarketing yang selanjutnya dikembangkan menjadi Call Center. Karena direct respond TV cukup mendapat tanggapan maka di tahun mendatang kami juga mengembangkan outlet di mal-mal yang memudahkan customer untuk mengunjungi dan melihat display product kami yang diberi nama Innovation Store.

Apa yang membuat Anda semangat menggeluti bisnis ritel tersebut?

Modal utama saya hanya satu yaitu semangat hidup (passion of life). Bisnis ritel telah menjadi tumpuan hidup saya selama 25 tahun ini dan menjadikan hidup lebih bermakna. Di tengah persaingan bisnis ritel yang ketat, kami terus membekali diri dengan pengetahuan (knowledge), membangun jaringan (relationship) dan memupuk modal (money).

Apalagi bisnis ritel (menjual barang langsung ke konsumen) sudah ada sejak jaman prasejarah yang manusianya saja sama sekali belum mengenal uang. Tapi bagi saya, bisnis ritel (berdagang) tidaklah semudah halnya sekadar jual beli biasa namun harus dijadikan sebagai suatu usaha yang diminati atau dilandasi dengan rasa ketertarikan. Dengan menyatukan segala vitalitas dan semangat jiwa, maka tujuan dan harapan yang telah kita rencanakan akan terwujud dan menjadi nyata. Bisnis ritel adalah pilihan saya dan bisa jadi, pilihan Anda juga.

Lantas, bagaimana usaha ini bisa bersaing dengan peritel lokal dan asing?

Yang selalu saya tanamkan pada diri sendiri dan karyawan adalah kita perlu belajar tentang pengetahuan baru, menciptakan kreativitas baru dan termasuk ide baru. Menurut saya, If you take the same Action everyday, you will always get the same Result. Maksudnya kita selalu melihat peluang baru dan bagus di masyarakat. Karena kondisi (termasuk kesenangan masyarakat dalam pola berbelanja) berbeda dan terus berubah setiap saat, kita juga terus menekankan inovasi baik dalam produk maupun pemasarannya.

Apa yang membuat usaha ritel Anda berbeda dengan yang lain?

Karena semua product yg kami tawarkan ada added value yang dituangkan dalam 5 category. Jadi kami punya banyak pilihan. Hal lain yang membuat kami mempunyai nilai added value adalah selain punya outlet kami mempunyai pelayanan telemarketing yang bisa memenuhi permintaan customer secara langsung. Jadi jika anda memesan via telepon, product bisa alangsung dikirim.

Produk apa yang Anda tawarkan?

Hingga saat ini kami fokus ke lima kategori produk yaitu kecantikan (beauty), kesehatan (healthy), olahraga dan fitness (sport), peralatan rumah tangga (household) dan suplemen (supplement) yang manca negara.

Kondisi krisis seperti ini, apakah produk yang Anda tawarkan laku?

Memang sejak krisis global menggurita di Amerika akhir tahun 2007 lalu, ada sedikit pengaruh penurunan terhadap penjualan produk kami yaitu sekitar 10-20%. Namun bukanlah DRTV yang tidak mampu menyediakan produk-produk dengan inovasi tertinggi. Buktinya penjualan tetap ada. Ini berarti pula masyarakat masih punya duit untuk membelanjakan barang kebutuhannya. Krisis global justru tidak terlalu berpengaruh terhadap pola konsumsi masyarakat kita. Alhasil, dalam setahun kita mengeluarkan sedikitnya 20 produk, selalu saja ada peminatnya.



Siapa konsumen Anda?

Kosumen kami banyak berasal dari kalangan middle up yang punya gaya hidup innovatif dan visioner. Kemajuan teknologi telah membuat pola tingkah laku masyarakat sangat berbeda. Banyak kecenderungan produk yang kami tawarkan bukan saja memenuhi kebutuhan hidup tapi lebih pada persoalan gaya hidup (lifestyle). Misalnya, sekarang banyak orang berbondong-bondong pergi ke pusat kebugaran (fitness center). Kita melihat ceruk peluang dari situ contohnya. Untuk bisa sehat, kini orang bisa memulainya dari rumah sendiri dan tanpa perlu keluar rumah. Apalagi kalau pergi ke pusat kebugaran akan memerlukan biaya dan waktu tidak sedikit. Kita menyediakan satu alat yang bisa dipakai untuk melatih kebugaran semua otot tubuh. Setelah selesai, kita bisa melipat dan menyimpannya serta tidak perlu memakan banyak tempat.

Berarti Anda menyasar personal konsumen?
Bisa jadi, karena kecenderungan masyarakat sekarang ini memilih fleksibilitas (kemudahan, kenyamanan dan kalau perlu tidak usah meninggalkan rumah) dalam berbelanja. Di DRTV kita menyediakan itu semua. Dengan strategi marketing above the line (membuat sebuah program di televisi), masyarakat akan semakin tahu (aware) pada produk DRTV. Di situ akan dijelaskan manfaat produk, cara penggunaan hingga cara praktis penyimpanannya. Lantas untuk memesan produk tersebut, masyarakat bisa langsung menghubungi call center (atau datang ke Innovation Store terdekat) dan barang akan langsung dikirim serta dirakit di tempat (jika perlu perakitan).

Mengapa Anda memakai teknik marketing seperti itu?
Itulah diferensiasi produk DRTV. Produk yang kita jual bukan produk biasa (ordinary) tapi justru luar biasa (extra ordinary). Fitur-fitur unik dan manfaat produk lainnya perlu kita jelaskan secara gamblang dalam sebuah program selama sekitar setengah jam.

Visi seperti apa yang membuat DRTV sanggup bertahan hingga seperempat abad ini?

Ini adalah perjalanan panjang saya selama berkecimpung dalam usaha ini. Concern saya adalah bagaimana mengembangkan 2 P  Product dan People supaya perusahaan bisa bertahan terhadap perubahan dunia yang sangat cepat dan perusahaan bisa terus berkembang.

Intinya kalau perusahaan ini mau besar dan bermakna harus ditanamkan fondasi yang kuat yaitu filosofi company. Tentunya, filosofi itu perlu dibangun tidak hanya melalui fisik semata tapi juga melalui mental (mind). Hingga terlahirlah filosofi 5S, 5C dan 10 Roh yang terus memberi semangat pada diri pribadi maupun karyawan yang saya pimpin.

Konsep 5S yaitu ketulusan (Sincere) dalam bekerja dan bukan main-main, berani memulai (Start), harus belajar dan terus mengasah kemampuan (Skill), tidak takut gagal dan memiliki semangat (Stamina) hingga harus berhasil dan sukses (Success).
Konsep 5S yang mulai dibuat sejak 1983 terus mengalami perkembangan. 10 tahun kemudian, terlahir konsep 5C.

Konsep 5S yang sudah diciptakan hanya mengena satu sisi saja yaitu market share. Konsep ini hanya memfokuskan pekerjaan di lapangan. Sementara itu, setelah saya mengikuti beberapa seminar dari MarkPlus, ada tiga konsep yang harus dikuasai yaitu “Market Share, Mind Share dan Heart Share”. Konsep 5C ini mewakili unsure mind share yang harus tetap dianut oleh staf dan karyawan.

Konsep 5C yaitu Care and trus the company, Create Positive Thingking, Choose the right people, Consistency of all performance dan Consolidate the power of teamwork.
Tak berhenti di situ, saya mendapat inspirasi lagi dari guru Ethos, Jansen Sinamo yang mengungkapkan pentingnya ethos kerja. Filosofi perusahaan akan semakin lengkap dengan hadirnya roh yang sanggup menyentuh sisi spiritual staf dan karyawan.
Lahirlah konsep 10 Roh yang menjembatani konsep 5S sebagai landasan berpijak di lapangan dan konsep 5C sebagai jalan berpikir. Seperti konsep Markplus, 5S sebagai market share, 5C sebagai mind share dan 10 roh sebagai hearth share. Kesemuanya kita sebut sebagai Five Brave.

Yang dimunculkan dalam 5 maskot karakter yang sekaligus menjadi icon values DRTV yaitu Messenger (menyatukan sincerity, care and trust, serta kerja adalah rahmat dan amanah), Trailblazer (menyatukan self starter, create positive thinking serta kerja adalah panggilan dan aktualisasi), Team Leader (menyatukan skill, choose the right people serta kerja adalah ibadah dan seni), Gladiator (menyatukan stamina, consistency of all performance serta kerja adalah kehormatan dan pelayanan) dan Achiever (menyatukan spirit of success, consolidate the power of teamwork serta kerja adalah pengabdian dan pusaka).

Apa maksud pusaka?
Yang namanya pusaka adalah peninggalan. Nah, untuk membagi ilmu pengetahuan kepada semua orang (terutama tentang bisnis ritel), saya mewariskan buku sebagai pusakanya. Sejak awal berkecimpung dalam bisnis, ada suatu keinginan untuk mengabadikan pengalaman bergelut di bidang ritel. Namun keinginan itu baru terwujud pada tahun 2005 dengan terbit buku perdana “CE-Balance, The Road to Seko Bansai” tentang memenangkan persaingan melalui keseimbangan komunikasi dan eksekusi. Tahun berikutnya (2006), muncul buku “5ive Actions To Drive Change on Demand” tentang kiat sukses melakukan transformasi perusahaan. Disusul dengan buku “5 Jurus Sukses Berbisnis Retail di Modern Market” (2007) dan buku “Daring to Begin” (2008).

Anda juga membuat buku dalam format cerita bergambar, untuk apa?
Saya membuat buku “Kisah Petualangan IO Angel” tiga tahun lalu sebagai implikasi dari corporate values yang menyatukan 5S, 5C dan 10 Roh. Saya membuat ide ceritanya sendiri dan membuat tokoh-tokohnya sesuai dengan 5 karakter yang mewakili fokus produknya untuk mempopulerkan nilai-nilai positif yang terkandung dalam product di IO Store dan Innovation Store.

Kenapa IO? Apa hubungannya dengan Innovation Store?
IO store adalah flagship shop of Innovation Store yang kami konsepkan sebagai tempat berbelanja product innovatif yang lebih exclusive.

Apa isi buku yang justru pantas disebut komik itu?
Ceritanya adalah tentang penyelamatan planet bumi yang sedang dilanda malapetaka. Saat itu, planet tempat manusia hidup tersebut banyak dipenuhi orang sakit akibat penggunaan alat kosmetik hingga peralatan rumah tangga yang salah. Berita itu terdengar hingga ke planet IO. Datanglah sosok mirip malaikat (angel) yang membawa lima pasukan untuk mengalahkan 4 musuh penyebar sakit tersebut. IO saat itu terkenal di bumi sebagai planet yang cantik sehingga banyak manusia ingin berbondong-bondong pergi ke sana. Namun Angel tersebut melarangnya. Tidak perlu lah ke planet IO karena di sini (bumi) sudah ada IO juga yaitu Innovation Store yang menyediakan semua produk kecantikan, alat kebugaran hingga alat rumah tangga. Sehingga “sakit” dari manusia di bumi ini bisa teratasi dari produk IO tersebut.

Di tengah kesibukan mengurus perusahaan, bagaimana Anda membagi waktu untuk menulis buku?
Saya meluangkan waktu setengah hingga dua jam sehari untuk menuliskan semua pemikiran dan ide-ide yang terlintas. Mudah-mudahan rencana saya menerbitkan satu buku setiap tahun bisa terwujud.

Kenapa Anda menulis buku? Toh, dari perusahaan Anda juga sudah meraup laba?
Bagi saya buku akan saya jadikan pusaka yang tidak hanya bermanfaat bagi perusahaan sendiri tapi juga masyarakat luas. Apalagi buku yang saya tulis cenderung berisi motivasi berwirausaha (terutama bisnis ritel) dan langkah-langkah memajukan perusahaan (dari hasil 25 tahun bergelut di bisnis ritel).

Apa menariknya buku Anda?

Sebenarnya buku yang saya tulis menggunakan prinsip keseimbangan yin dan yang sebagai kerangka berpikir. Untuk bisa sukses, pemimpin harus berani menggerakkan transformasi (perubahan). Pemimpin transformasi harus bisa menjamin kualitas pelaksanaan eksekusi sama baiknya dengan kualitas rancangan strategi. Intinya, harus terjadi keseimbangan antara strategy fit (yin) dan execution fit (yang). Uniknya, semua buku saya selalu tertoreh petuah bijak dari pepatah Cina termasuk huruf-huruf Kanji yang hampir mewarnai setiap halaman. Inilah diferensiasi buku saya dengan buku bisnis lainnya.

Apa yang Anda lakukan di kala senggang?
Biasanya saya libur kerja pada Sabtu dan Minggu. Di hari itu, saya mencurahkan waktu penuh untuk keluarga. Sempatkan juga dalam satu hari untuk membaca selama dua jam. Jangan clubbing dan jangan minum alkohol.

Biodata pribadi:
Nama : Salim Kartono
TTL : Medan, 31 Januari 1950
Jabatan : CEO DRTV Group Company
Nama anak : Erni Kartono, Jeni Kartono, Chandra Kartono
Sekolah formal : SMA di Medan
Hobi : Membaca dan bertamasya
Motto : Success is daring to begin
Riwayat karir :
1968 : Pembungkus sabun mandi di salah satu pabrik di Medan
1970-1975 : Salesman di perusahaan elektronik di Medan
1976-1979 : Sales Manager PT Indo Machine Jakarta
1980-1982 : Direktur PT Widjaja Indonesia Plastic Industry
1983 : Mendirikan PT Panji Metal Perkasa dan berkembang terus hingga sekarang (sebagai CEO DRTV Group)

Senin, 16 Agustus 2010

BI Diminta Publikasikan Hasil Riset Redenominasi


Wacana penyederhanaan nominal (redenominasi) rupiah dinilai sebagai upaya Bank Indonesia (BI) mengalihkan isu pembentukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang ditargetkan selesai akhir tahun ini.

Wakil Ketua Komisi XI DPR Harry Azhar Aziz mengatakan, BI mesti memaparkan hasil penelitian tentang redenominasi tersebut kepada DPR.

“BI jangan seperti partai politik atau lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang melempar wacana tanpa memberi tahu pemerintah dan DPR terlebih dulu. Itu terlalu berbahaya,” kata dia kepada harian Seputar Indonesia di Jakarta, Senin (16/8/2010).

Dia menilai langkah BI tersebut sebagai upaya mengalihkan isu pembentukan OJK yang tengah digodok DPR.Dia menyarankan,BI menyerahkan hasil penelitiannya tersebut kepada lembaga riset eksternal atau perguruan tinggi, yang hasilnya diserahkan kepada pemerintah.“ Bukan seperti sekarang.BI melempar wacana, tapi DPR sama sekali belum mengetahui bentuknya seperti apa,”ungkapnya.

Ekonom Yanuar Rizky berpendapat, wacana BI tersebut bermuatan politis jika tidak segera menjelaskan hasil penelitian yang dilakukan selama lima tahun tersebut. “Itu bisa saja, bahkan bisa mengalihkan kasus Bakrie dan kasus yang selama ini ditinggalkan pemerintah,”kata dia.

Dia meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk mengambil alih permasalahan ini dan menjelaskannya kepada masyarakat. Untuk menghindari kepanikan, Presiden harus mengambil positioning dan harus menjelaskan masalah dan manfaatnya seperti apa.

"Jangan dibiarkan BI berjuang sendiri,”kata Yanuar.

Menurut Yanuar, kebijakan redenominasi ini penting dilakukan karena kondisi mata uang rupiah sudah menguat tertinggi selama setahun terakhir.Dampaknya, penguatan tertinggi tersebut juga menyebabkan fluktuasi tinggi, sekaligus menjadi bahan spekulasi investor.

Jika sudah menjadi bahan spekulasi, lanjut Yanuar,biaya operasi moneter yang akan dikeluarkan BI relatif lebih besar. Bagaimanapun biaya ongkos cetak uang ini masuk ke Anggaran Tahunan Bank Indonesia (ATBI).Sekadar catatan,biaya operasi moneter dalam ATBI hingga akhir tahun ini mencapai Rp22 triliun.

“Minimal dengan redenominasi ini bisa menghemat Rp15 triliun. Itu hitungan BI.Tapi, biar pasar tidak panik,SBY harus mengomunikasikannya. Bahkan juga mencegah jadi proyek anggota DPR,” tegasnya.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat BI Difi A Johansyah membantah rumor bahwa kebijakan redenominasi merupakan isu pengalihan OJK yang akhir tahun ini harus dituntaskan.

“Tidak ada itu. Lagipula apa yang mau dialihkan dari isu OJK ini,”jawab dia. (didik purwanto)

sumber: Seputar Indonesia, Senin (16/8/2010).

Kamis, 12 Agustus 2010

Utang Swasta Meningkat 92,4%


Bank Indonesia (BI) mencatat jumlah utang luar negeri swasta hingga semester I/2010 mencapai USD15,7 miliar atau naik 92,4% dibandingkan periode yang sama 2009 sebesar USD8,25 miliar. Peningkatan tersebut dinilai mencerminkan kegiatan sektor riil yang semakin membaik.

”Prospek perekonomian Indonesia yang positif juga turut mempengaruhi kepercayaan asing untuk berinvestasi di dalam negeri,” kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat BI Difi A Johansyah di Jakarta, Rabu (11/8/2010).

Peningkatan pinjaman tersebut terutama akibat kontraksi selama semester I/2009 yang disebabkan krisis perumahan berisiko tinggi (subprime mortgage). Adapun perolehan komitmen baru pada 2010 melebihi periode yang sama 2008 sebesar USD14,8 miliar, ketika krisis subprime mortgage belum berdampak signifikan.

Difi menjelaskan, sektor ekonomi yang memiliki prospek cukup baik antara lain sektor pertambangan dan penggalian; serta sektor listrik,gas,dan air bersih.Hal ini terlihat dari akumulasi perolehan komitmen baru selama semester I/2010 untuk kedua sektor tersebut yang meningkat masing-masing 404,6% dan 121,4% dibandingkan periode yang sama tahun 2009.

”Peningkatan antara lain disebabkan oleh kenaikan permintaan batu bara terutama dari China dan India, serta pembangunan beberapa proyek pembangkit listrik. Indikasi meningkatnya aktivitas sektor swasta juga tercermin dari komitmen baru yang mayoritas digunakan untuk modal kerja,” ujar Difi.

Selama semester I/2010,mayoritas komitmen utang luar negeri baru sebesar 64,6% diperoleh dari kreditor lainnya. Sedangkan sisanya berasal dari perusahaan induk dan afiliasi sebesar 35,4%.

”Hal ini mencerminkan minat investor kepada sektor swasta Indonesia semakin membaik meskipun tidak memiliki hubungan kepemilikan,” kata Difi.

Mayoritas komitmen baru selama semester I/2010 tersebut diterima dalam bentuk instrumen pembiayaan perdagangan (trade financing), yakni sebesar 44,6% yang meningkat 65,2% dibandingkan akumulasi periode yang sama tahun 2009. Peningkatan komitmen baru trade financing sejalan dengan meningkatnya aktivitas impor nonmigas selama periode tersebut yang tercatat sebesar 41,9%.

Menurut ekonom Aviliani, kenaikan pinjaman swasta luar negeri tersebut merupakan hal yang wajar. Hal itu disebabkan karena banyak dana menganggur (idle) di luar negeri.

”Sementara kalau bermain di pasar modal kondisinya sedang hancur,”paparnya.

Pinjaman sektor swasta dari luar negeri tersebut merupakan dana murah yang biasanya akan digunakan oleh pihak swasta dalam modal kerja.Sebenarnya,kata dia, pihak swasta pun bisa mengambil dari dana perbankan di dalam negeri. Namun, karena kondisi bunga perbankan di dalam negeri tidak kompetitif,maka pihak swasta cenderung mengambil dana murah dari luar negeri.

Kendati demikian, pinjaman luar negeri tersebut harus diimbangi dengan sisi keluarannya (output). Dengan maraknya dana asing yang masuk tersebut otomatis akan menyebabkan kondisi rupiah akan selalu menguat.

”Risiko kenaikan mata uang rupiah inilah yang harus dipikirkan oleh pemerintah sekaligus BI. Jangan sampai kondisinya seperti 1998,”ungkapnya.

Bagaimanapun juga, kata Aviliani, rupiah yang terlalu menguat juga akan tidak baik bagi eksportir. Begitu juga dengan kondisi makronya. Di sisi lain, utang pemerintah yang mengecil ternyata justru tidak diimbangi dengan utang swasta yang cenderung membesar.

”Jika tidak diimbangi dan dipikirkan oleh pemerintah, rupiah bisa jatuh dan daya beli akan anjlok,”bebernya.

Boros Terbitkan SBN

Di sisi lain, pemerintah dinilai terlalu boros dalam menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) karena tidak sebanding dengan realisasi penggunaannya dalam APBN. ”Kebijakan front loading management dalam pengelolaan utang Indonesia merupakan salah satu penyebab dari meningkatnya dengan pesat utang Indonesia yang berasal dari surat berharga negara,” kata anggota Komisi XI DPR Arif Budimata. Arif menyebutkan, utang dalam bentuk SBN meningkat menjadi USD116,37 miliar dari total utang Indonesia hingga Juli 2010 yang mencapai angka USD181,59 miliar atau setara dengan Rp1.625 triliun.

Utang dalam bentuk SBN meningkat, jika dibandingkan 2009 yang hanya mencapai USD104,2 miliar. Dengan kondisi tersebut, Arif merekomendasikan agar kebijakan front loading management perlu diperbaiki. ”Pengalaman dua tahun terakhir, yaitu 2008 dan 2009, kebijakan hiperaktif dalam menerbitkan SBN berakibat terjadinya Silpa (sisa lebih penggunaan anggaran) yang cukup besar di APBN tahun anggaran tersebut,” katanya.

Jumat, 06 Agustus 2010

Bank Syariah Tumbuh Lambat


Pertumbuhan industri perbankan syariah di Indonesia dinilai masih tetap lambat kendati memiliki potensi besar mengingat tingkat populasi muslimnya terbesar di dunia.

“Praktik syariah di Indonesia masih lambat dibandingkan dengan negara berpenduduk muslim lainnya. Padahal Indonesia merupa kan salah satu negara berpenduduk muslim terbesar,”ujar anggota DPR dari Fraksi PKS Sahibul Imam saat acara "Arah Kebijakan Bank Syariah ke Depan" di Balai Kartini Jakarta, Kamis (5/8/2010).

Dalam tiga tahun terakhir,kata dia,bank umum syariah di Indonesia baru berkembang dari tiga menjadi 10 bank. Hingga akhir tahun nanti diperkirakan hanya ada satu lagi bank umum syariah yang akan memperkuat industri perbankan syariah di Indonesia.

Kendati tidak berkembang pesat, pencapaian yang sudah ada patut diapresiasi. Dia mengatakan, perkembangan bank umum syariah yang lambat juga karena belum ada payung hukum yang tepat yang mampu mendorong pertumbuhan bisnis bank syariah.

Untuk menjembatani hal tersebut, kalangan legislatif akan berupaya mencari solusi agar bisnis bank syariah di Indonesia bisa tumbuh relatif lebih cepat. Sementara itu, imbuh dia, perbankan syariah diharapkan pula dapat menjelaskan secara objektif produk-produknya kepada nasabah sehingga dapat dimengerti kelebihannya bila dibandingkan bank-bank konvensional.Bank syariah juga diharapkan mampu menunjukkan manfaat yang bisa diperoleh nasabah.

“Jika bankir syariah hanya dapat menjelaskan, tapi tanpa manfaat, calon nasabah pun akan menolak dan masih akan bergantung ke bank konvensional,”tuturnya.


Kabiro Penelitian, Pengembangan, dan Pengaturan Perbankan Syariah Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia (BI) Tirta Segara mengakui bahwa pertumbuhan bisnis bank syariah masih lambat.

Hal itu karena bisnis bank syariah di Indonesia baru mulai sekitar 1992,Bank Muamalat Indonesia berdiri.“Padahal di luar negeri bisnis bank syariah sudah dimulai sejak era 1960-an,” katanya. Hal itu juga bisa dilihat dari pangsa pasar (market share) bank syariah di Indonesia.Per Juni lalu aset bank syariah mencapai 2,88%, naik tipis dari kuartal I/2010 sebesar 2,78%.Kendati demikian, BI optimistis bisa mengejar pangsa pasar sebesar 3% hingga akhir tahun dan sebesar 5% hingga akhir 2013.

“Pangsa pasar 3% sampai akhir tahun mungkin. Begitu juga dengan 5% di akhir 2013.Tapi, kita akan tetap berupaya agar bankir tetap menjalankan bisnisnya secara hati-hati dan mencegah moral hazard yang mungkin terjadi,” ungkapnya.

Guna mendukung perkembangan bank syariah,salah satu kebijakan yang akan dikeluarkan BI dalam waktu dekat adalah aturan tentang delivery channel.

Bank syariah yang memiliki induk bank konvensional bisa menjual produk syariahnya di bank konvensionalnya tersebut.Misalnya produk syariah Bank Syariah Mandiri bisa dijual ke Bank Mandiri sehingga dengan aturan tersebut, penyebaran produk syariah akan merata. (didik purwanto)

Kamis, 05 Agustus 2010

Berhasil di Turki, Gagal di Zimbabwe

REDENOMINASI di luar negeri pernah dilakukan di beberapa negara. Di Turki misalnya, negara itu menerapkan redenominasi efektif mulai 1 Januari 2005 silam.



Saat itu Turki mengurangi jumlah 0 pada mata uangnya sebanyak enam digit. Mata uang Turki yang semula lira lalu diubah menjadi “new Turkish lira”. Di Turki redenominasi berhasil meredam inflasi.Sebelum kebijakan ini dijalankan,inflasi mencapai 12%. Saat proses redenominasi inflasi turun menjadi 8% dan setelahnya turun lagi menjadi tinggal 4%. Untuk mengubah denominasi nilai pecahan mata uang lira lama, Pemerintah Turki membutuhkan waktu 10 tahun sejak 1 Januari 2005.

Demi mempermudah sosialisasi kepada masyarakat, otoritas moneter Turki memberlakukan penggunaan denominasi nilai uang secara ganda (double display) selama enam bulan pada uang yang berlaku di negara itu. Langkah redenominasi uang teranyar dilakukan Zimbabwe pada 2008 lalu. Pemerintah Zimbabwe menghilangkan 10 angka nol pada nilai mata uang yang berlaku. Sebagai contoh, 10 miliar dolar Zimbabwe nilainya dipangkas jadi hanya 1 dolar Zimbabwe.

Hal itu dilakukan untuk mengatasi perekonomian Zimbabwe yang terpuruk karena inflasi yang sangat tinggi yakni 2,2 juta%. “Dolar Zimbabwe akan diredenominasi dengan menghilangkan 10 nol dalam tiap nominal uang. Uang 10 miliar dolar Zimbabwe akan menjadi 1 dolar dan berlaku Agustus 2008,” ujar Gubernur Bank Sentra Zimbabwe Gideon Gono seperti dikutip CNN kala itu.

Gono menambahkan, banyaknya nominal angka yang tertera pada mata uang menyulitkan sistem yang bekerja secara otomatis seperti komputer maupun mesin hitung elektronik lainnya. Akibatnya, mesin tidak berfungsi maksimal saat ada transaksi dalam jumlah miliaran atau triliunan. Dua tahun sebelumnya, tepatnya pada 2006, Zimbabwe juga mengurangi tiga angka nol pada nilai mata uang dolar Zimbabwe. Hal ini dilakukan agar penduduk tidak kerepotan membawa tumpukan uang untuk berbelanja.

Namun, gara-gara perubahan itu harga-harga barang di Zimbabwe pada kurun waktu tersebut naik drastis. Adapun Rusia melakukan redenominasi pada 1 Januari 1998. Saat itu Pemerintah Rusia menurunkan nilai Rubel sebesar 1.000. Tujuan redenominasi ini untuk menyederhanakan aktivitas ekonomi karena tidak memengaruhi suplai uang atau tabungan masyarakat. Pemerintah Rusia melaksanakan redenominasi selama enam tahun satu bulan.

Rinciannya, tahap pertama adalah 13 bulan masa sosialisasi dengan mengeluarkan mata uang dengan dua nominal, yang baru dan lama. Berikutnya, penggunaan mata uang lama dan baru secara bersamaan selama satu tahun penuh serta periode peralihan dari mata uang lama ke yang baru selama empat tahun. Kebijakan redenominasi Rusia ini ternyata memicu inflasi. Sebelum redenominasi inflasi tercatat 14,6% per tahun.

Sementara, saat proses redenominasi inflasi naik menjadi 27,6% per tahun dan satu tahun pascaredenominasi melonjak menjadi 85,7%. Di Ukraina, kebijakan redenominasi merupakan satu bagian dari reformasi keuangan. Kebijakan baru ini dilaksanakan pada Agustus 1996. Pemerintah Ukraina mengganti mata uang karbonavets bernilai 100.000 dengan mata uang hryvnia bernilai 1.Pada tahap awal, kedua mata uang digunakan dalam 15 hari, 2–16 September 1996.

15 hari berikutnya, rakyat Ukraina harus menukar karbonavets dengan hryvnia. Uniknya, kebijakan redenominasi Ukraina ini berhasil meredam inflasi yang sebelumnya sangat tinggi. Sebelum redenominasi, inflasi tercatat 376,7%. Pada proses redenominasi inflasi turun menjadi 80% dan pascakebijakan itu turun lagi menjadi 15,9%.Ekonomi Ukraina berhasil distabilisasi dengan kebijakan ini. (CNN/yanto kusdiantono/ ahmad senoadi)